Ikhbar.com: Penulis Buku “Jodoh di Tangan Tuhan, Selebihnya Hasil Lobian (2025)”, Nyai Uswatun Hasanah Syauqi, menyebut bahwa fenomena ketakutan terhadap pernikahan bukan hal baru dan telah muncul sejak lama dalam berbagai pengalaman perempuan.
Hal itu ia sampaikan dalam kegiatan Over Think Club: Berpikir Kritis, Berserah dengan Sadar dengan tema “Married is Scerary.” Acara ini diselenggarakan oleh mubadalah.id bersama KOPRI PB PMII secara daring melalui Zoom Meeting pada Senin, 23 Februari 2026.
Forum tersebut menghadirkan diskusi kritis mengenai relasi, kesiapan menikah, serta dinamika cara pandang generasi muda terhadap institusi pernikahan.
Dalam pemaparannya, sosok yang akrab disapa Ning Uswah itu mengungkapkan bahwa persepsi menikah sebagai sesuatu yang menakutkan sudah lama ada.
“Ternyata fenomena married is scary itu sudah ada sejak zaman dulu. Ada anggapan bahwa pernikahan itu menakutkan. Bahkan ada pengakuan perempuan yang merasa lebih bahagia berhaji daripada menikah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam memilih pasangan, tidak selalu ditemukan kecocokan sempurna sehingga diperlukan ikhtiar lahir dan batin.
“Kadang dalam memilih pasangan memang tidak ada yang benar-benar pas. Kembali lagi, jodoh itu ada di tangan Tuhan, selebihnya hasil lobi. Ada ikhtiar spiritual dan lahir batin. Tirakatmu akan menentukan bagaimana jodohmu kelak,” jelasnya.
Menurutnya, perjalanan rumah tangga merupakan proses menyatukan dua pribadi dengan berbagai kemungkinan yang tidak terduga.

“Kita tidak pernah tahu karakter seseorang dan plot twist kehidupan. Pernikahan itu tidak ada yang sempurna, tetapi menyatukan dua insan dan mengupayakan usaha serta takdir kebaikan yang kita perjuangkan sendiri,” katanya.
Dalam penjelasannya itu, Ia mengutip pandangan Nyai Hj. Nur Rofi’ah tentang kriteria pasangan yang berakhlak baik sebagai prioritas.
“Kata Bu Nur Rofi’ah, boleh menikah dan memilih jodoh yang good looking, tapi pastikan dia baik. Patokan utamanya adalah bernasab baik dan berakhlak baik; good looking yang baik, kaya yang baik. Sakinah, mawaddah, warahmah itu bukan bertumpu pada perempuan saja, tetapi bagaimana cara kita bersama-sama mengusahakan kebahagiaan,” ujarnya.
Ning Uswah menekankan pentingnya masa pengenalan yang tetap berada dalam koridor syariat. Ia mengutip QS. Al-Isra: 32 sebagai rujukan. Selain itu, ayat ini juga sebagai pengingat untuk menjaga kehormatan diri dan orang lain selama proses pendekatan
Sementara itu, Ketua KOPRI PB PMII, Wulan Sari, menyoroti fenomena aktivis perempuan yang kerap nyaman dengan kesendirian serta stigma terhadap aktivis yang menikah.
“Yang aktif di dunia aktivisme itu nyaman dengan kesendirian, bahkan ada stigma. Waktu saya mencoba mencalonkan diri sebagai Ketua KOPRI PB PMII, saya ingin mematahkan stigma bahwa aktivis yang sudah menikah juga punya standing di organisasi,” tuturnya.
Ia juga membagikan pengalaman relasi yang dibangun dengan prinsip saling mendukung.
“Saya dan suami saling mendukung. Saya pernah bertanya, ‘Kalau saya punya karier dan prestasi yang lebih baik, kamu khawatir nggak atau merasa insecure?’ Dia menjawab, ‘Kalau kamu yang punya kesempatan, kenapa tidak? Nanti saya juga punya posisi atau kesempatan yang lain,’” ungkapnya.
Wulan menilai sikap selektif generasi muda terhadap pasangan dipengaruhi pengalaman sosial dan cara pandang digital.
“Ada satu momen ketika saya berdiskusi dengan teman-teman di KOPRI tentang pernikahan. Sebenarnya apa sih yang kalian rasakan dengan kondisi sekarang? Mereka merespons bahwa belum menemukan kriteria yang cocok dan menjadi lebih selektif. Jika tidak ada kesadaran penuh, pernikahan akan menjadi ruang yang hampa,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pola pikir generasi saat ini banyak dipengaruhi algoritma media sosial.
“Pola pikirnya dipengaruhi algoritma Gen Z; mereka lebih takut punya pasangan daripada punya anak, saking worry-nya terhadap pernikahan. Pengalaman yang kita saksikan juga bisa membuat kita berpikir lebih kritis,” katanya.