Ikhbar.com: Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah berencana membangun pabrik cairan infus berskala besar sebagai langkah memperkuat kemandirian sektor kesehatan. Proyek ini digarap melalui entitas usaha PT Suryavena Farma Indonesia dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.
Inisiatif tersebut diarahkan untuk memperkuat rantai pasok layanan kesehatan, terutama dalam penyediaan obat dan alat medis yang selama ini masih bergantung pada pihak lain. Muhammadiyah menilai kebutuhan internal yang besar harus diimbangi dengan kemampuan produksi mandiri.
Direktur Utama PT Suryavena Farma Indonesia, Tatat Rahmita Utami menyebut kekuatan Muhammadiyah selama ini terletak pada layanan kesehatan dan pendidikan. Namun, sektor produksi masih menjadi tantangan yang perlu dibenahi.
“Selama ini Muhammadiyah kuat di sektor kesehatan dan pendidikan. Namun, untuk suplai alat kesehatan dan obat-obatan, masih bergantung pada pihak luar,” kata Tatat Rahmita Utami usai peluncuran perusahaan di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Senin, 13 April 2026.
Jaringan layanan kesehatan Muhammadiyah saat ini mencakup sekitar 130 rumah sakit dan lebih dari 300 klinik di berbagai daerah. Pertumbuhan tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap pasokan medis, termasuk cairan infus sebagai kebutuhan dasar layanan kesehatan.
Produksi cairan infus selama ini masih dilakukan melalui kerja sama dengan pabrik lain. Skema tersebut dinilai belum mampu menjamin kestabilan distribusi karena keterbatasan kapasitas produksi.
Baca: Bank Matahari Milik Muhammadiyah Resmi Beroperasi
“Karena masih menumpang di pabrik lain, ada keterbatasan suplai. Padahal kebutuhan di internal Muhammadiyah cukup besar,” ujarnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Muhammadiyah menyiapkan pembangunan fasilitas produksi di kawasan Karangploso, Malang, Jawa Timur. Lokasi ini dipilih karena dikenal sebagai salah satu pusat industri cairan infus di Indonesia.
Lahan seluas kurang lebih 14 hektare telah disiapkan dan melalui tahapan uji kelayakan, termasuk pengujian kualitas air yang menjadi komponen utama dalam proses produksi.
“Lahan yang tersedia sekitar 14 hektare dan sudah melalui uji kelayakan, termasuk kualitas air. Hasilnya memenuhi syarat untuk pembangunan pabrik cairan infus,” kata Tatat.
Proyek pembangunan ditargetkan segera dimulai, dengan estimasi pabrik mulai beroperasi pada akhir 2027 atau awal 2028.
Dari sisi pembiayaan, Muhammadiyah menggandeng berbagai pihak, termasuk lembaga perbankan dan investor. Studi kelayakan proyek juga telah disusun dengan melibatkan Institut Teknologi Bandung (ITB) serta dukungan konsultan keuangan.
Saat beroperasi, pabrik ini diproyeksikan mampu memproduksi hingga 15 juta botol cairan infus setiap tahun. Sebagian besar produksi, sekitar 13 juta botol, akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan internal Muhammadiyah, sementara sisanya dipasarkan ke luar.
Minat pasar terhadap produk infus Suryavena disebut cukup tinggi. Namun, keterbatasan produksi saat ini masih menjadi kendala dalam memenuhi permintaan.
“Bahkan di luar rumah sakit Muhammadiyah sudah banyak yang berminat, tetapi saat ini masih terbatas karena kapasitas produksi belum optimal,” ujarnya.