Ikhbar.com: Menteri Agama (Menag) Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar mengajak umat Islam untuk menjadikan Idulfitri 2026 sebagai ajang memperkuat empati dan kepedulian sosial. Pesan tersebut menegaskan bahwa makna Idulfitri perlu diwujudkan dalam sikap nyata yang bermanfaat bagi sesama.
Dalam pandangan Prof. Nasar, sapaan karibnya, Ramadan berperan sebagai proses pembentukan karakter. Ibadah puasa tidak berhenti pada aspek menahan lapar dan dahaga, melainkan melatih kepekaan sosial agar semakin peduli terhadap kondisi orang lain.
“Puasa adalah proses mengasah kepekaan sosial. Di balik rasa lapar dan dahaga, tersimpan pesan kuat tentang empati kepada sesama dan kepedulian pada mereka yang kekurangan,” demikian disampaikan Menag dalam pesan Idulfitri 1 Syawal 1447 H di Jakarta, Jumat, 20 Maret 2026.
Ia menjelaskan, lantunan takbir yang menggema menjadi penanda berakhirnya Ramadan sekaligus simbol capaian spiritual. Ukuran kemenangan tersebut tercermin dari kemampuan menjaga nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari sepanjang tahun.
Baca: Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026
“Kemenangan sejati bukanlah sekadar kembalinya kita pada rutinitas, tetapi keberhasilan menjaga nyala api kesalehan,” ungkap Menag.
Menag juga menekankan bahwa Idulfitri menjadi waktu yang tepat untuk menanamkan kebaikan dan meraih keberkahan. Keberkahan itu hadir pada pribadi yang terbuka serta konsisten memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Ia mengingatkan agar semangat yang terbentuk selama Ramadan tidak berhenti setelah Idulfitri. Nilai disiplin, kejujuran, dan kepedulian sosial perlu terus dijaga dan diimplementasikan dalam aktivitas sehari-hari.
“Selamat Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 H. Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Alllah Swt melimpahkan keberkahan, kedamaian, dan kerukunan bagi bangsa Indonesia,” tandas Menag.