Ikhbar.com: Angin pesisir Mediterania di Lebanon berembus pelan, membawa bau asin bercampur debu bangunan runtuh. Di sepanjang tepian laut, orang-orang duduk berkelompok di jalur semacam trotoar, sebagian lain berbaring beralaskan kardus. Di antara mereka, seorang remaja bernama Alaa berjalan pelan sambil menenteng tas seadanya, satu-satunya yang tersisa dari hidup yang dulu dikenalnya.
Alaa tidak mencari pakaian baru untuk Lebaran, yang di kawasan Timur Tengah umumnya dirayakan pada Jumat, 20 Maret 2026. Ia hanya mencari tempat untuk tidur.
“Saya ditolak untuk tinggal di sekolah, lalu saya tidur di corniche (Jalur pejalan kaki). Kemudian orang dari pemerintah kota menyuruh saya ke sini, ke pusat kota Beirut,” ujar Alaa, sebagaimana dikutip dari Al-Jazeera, Ahad, 22 Maret 2026.
Baca: Iran Minta Negara Timur Tengah Bersatu Lawan AS-Israel
Beirut, Gaza, hingga Iran di bawah ancaman
Di pusat kota, lampu restoran masih menyala, tetapi suasananya berubah. Meja-meja kosong. Di trotoar dan ruang terbuka, tenda berdiri rapat. Kain terpal berwarna kusam menahan angin malam, sementara anak-anak berlarian tanpa alas kaki di antara tali pengikat.
Alaa belum mendapat tempat di deretan tenda itu. Malamnya, ia berencana kembali tidur di ruang terbuka.
Lebih dari satu juta orang di Lebanon mengalami nasib serupa, tercerabut dari rumah dan berpindah tanpa kepastian. Banyak di antaranya baru saja keluar dari konflik sebelumnya. Luka belum pulih, perang kembali datang.
Kondisi ini membuat Lebaran kehilangan makna yang biasa dikenal. Tidak ada rencana dan persiapan. Hari raya dijalani seperti hari lain di bawah ancaman serangan.
Di Iran, tentu, suasana lebih tegang. Beberapa pasar besar rusak akibat pemboman. Di sudut kota, orang-orang berjalan cepat, menghindari kerumunan yang dianggap berisiko. Harga kebutuhan melonjak tajam, membuat tradisi membeli pakaian baru atau makanan khas Lebaran semakin sulit dijangkau.

Di Gaza, suasana menjelang hari raya tampak kontras. Pasar Remal dipenuhi orang. Suara tawar-menawar bersahutan, pedagang memanggil pembeli, anak-anak menyelip di antara kerumunan. Dari kejauhan, pemandangan itu terlihat seperti Lebaran biasa.
“Dari luar, suasana Lebaran terlihat hidup. Tapi secara finansial, kondisinya sangat buruk. Semua orang kehilangan segalanya selama perang,” kata Khaled Deeb, seorang pembeli.
Baca: Israel Sibuk Tutupi Berita Dampak Kerusakan Serangan Iran
Antara keramaian dan kehilangan
Khaled berdiri di depan lapak buah. Tangannya sempat menyentuh jeruk yang tersusun rapi, lalu ia letakkan kembali. Harga yang tertera membuatnya mundur perlahan.
Dulu, ia memiliki supermarket. Setiap Lebaran, rumahnya ramai oleh keluarga yang datang. Ia membawa hadiah untuk anak dan saudara, menyiapkan makanan, memastikan semua merasa cukup.
Sekarang, ia tidak sanggup membeli satu buah pun.
“Sekarang hanya ‘raja’ yang bisa membeli ini semua, bukan orang miskin dan lelah seperti kami,” keluhnya.
Di sudut lain pasar, Shireen Shreim berjalan sambil menggandeng anaknya. Ia sesekali berhenti, melihat barang yang dipajang, lalu melangkah lagi tanpa membeli. Pandangannya menyapu sekitar, keramaian yang terasa ganjil.
“Kebahagiaan kami tidak utuh. Setelah dua tahun perang, kami menghadapi hidup, yang untuk kebutuhan paling dasar saja tidak tersedia,” ujarnya.
Rumahnya tidak lagi utuh. Dinding berlubang, sebagian ruang terbuka tanpa penutup. Ia dan suaminya menutupnya dengan papan kayu dan terpal agar masih bisa ditinggali. Di luar, banyak keluarga bahkan tidak memiliki perlindungan seperti itu.
Menjelang sore, jalanan dipenuhi tenda dari kain tipis. Di dalamnya, keluarga berdesakan. Lampu seadanya menyala redup. Suara anak-anak bercampur dengan percakapan pelan orang dewasa yang berusaha tetap tenang.
“Setiap pulang, saya merasa sedih. Orang-orang tinggal di tenda kain di jalanan, tanpa perlindungan yang manusiawi. Bagaimana mereka bisa merayakan Lebaran?” katanya.
Di Beirut, dalam kondisi serupa, sebagian orang bertahan dengan cara lain, berkumpul.
“Meski kami terusir, menjaga ikatan keluarga dan solidaritas adalah syarat utama untuk bertahan,” kata Karim Safieddine.
“Tanpa itu, kami tidak akan bisa membangun kembali masyarakat,” sambungnya.
Baca: Tentara AS Ramai-ramai Tolak Ditugaskan ke Iran
Lebaran yang tertahan
Jauh dari dentuman bom, kecemasan muncul dalam bentuk lain di Mesir. Di ruang tamu rumahnya di Benha, Amina duduk menghadap televisi. Layar itu hampir tidak pernah mati. Siaran berita terus berjalan, bahkan saat ia berbicara di telepon.
“Dia biasanya datang di pekan terakhir Ramadan untuk bersama keluarga. Tahun ini belum jelas apakah dia bisa pulang,” kata Amina, sebagaimana dikutip dari Al-Ahram.
Anaknya, Ahmed, bekerja di Doha, Qatar. Penutupan wilayah udara membuat kepulangannya tertunda tanpa kepastian. Lebaran yang biasanya menjadi momen berkumpul berubah menjadi penantian.
Di meja, rencana pernikahan anak bungsunya masih tersusun rapi, lengkap dengan tanggal, daftar tamu, dan kebutuhan acara. Semua disiapkan dengan asumsi Ahmed akan pulang.
Sekarang, semuanya terasa goyah.
“Saya tidak bisa membayangkan pernikahan tanpa dia, tapi juga sulit membatalkannya dalam waktu singkat. Saya hanya berharap perang ini segera berakhir,” ungkapnya.

Di luar rumah Amina, kehidupan tetap berjalan menjelang Lebaran. Toko kue ramai, aroma biskuit baru matang tercium dari dapur warga. Di masjid, persiapan salat Id terus dilakukan.
Di beberapa tempat, balon warna-warni telah dipasang di langit-langit, siap dijatuhkan setelah salat untuk anak-anak. Tawa mereka biasanya memenuhi ruang, menjadi penanda hari raya.
Fotografer Adel Eissa telah merekam momen itu selama bertahun-tahun. Ia memahami seperti apa wajah Lebaran di Mesir ketika situasi normal.
“Saya selalu mendapatkan foto paling berwarna pada hari Lebaran. Anak-anak melompat mengejar balon di dalam masjid, itu pemandangan yang selalu hidup,” katanya.
Tahun ini, warna-warna itu masih terlihat. Namun, perasaannya berbeda. Banyak keluarga menunggu, menunda, atau merayakan dengan anggota yang tidak lengkap.
Amina masih duduk di depan televisi. Setiap kabar baru ia dengarkan dengan saksama, berharap ada tanda perang akan berhenti.
“Semua orang berharap bisa berkumpul kembali sebelum Ramadan berakhir, agar Lebaran benar-benar membawa kebahagiaan,” kata dia.