Ikhbar.com: Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor, H. Addin Jauharudin menegaskan bahwa pemilihan kompleks makam Sunan Gunung Jati sebagai lokasi Riyanto Award 2025 dinilai sarat makna historis dan simbolik.
Ia menilai bahwa kawasan tersebut merepresentasikan keberagaman, harmoni budaya, dan persinggungan identitas yang telah lama tumbuh di Cirebon.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketum Addin saat memberikan sambutan dalam sesi Riyanto Award 2025 yang merupakan salah satu rangkaian Apel Kebangsaan Ansor-Banser 2025 pada Selasa, 23 Desember 2025.
Ia menjelaskan, Sunan Gunung Jati merupakan figur penting dalam sejarah Islam Nusantara yang mencerminkan perjumpaan lintas budaya dan agama sejak masa awal perkembangan Islam di Tanah Air.
Baca: Ketum Ansor Tegaskan Spirit Pengabdian Banser dalam Riyanto Award 2025
“Mengapa acara ini dilaksanakan di kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati? Karena jika berbicara tentang simbol keberagaman, beliau adalah representasi yang sangat kuat. Sunan Gunung Jati memiliki istri dari etnis Tionghoa, yang menunjukkan adanya perjumpaan budaya sejak masa awal,” ujar Ketum Addin.
Selain dikenal sebagai ulama dan wali, Sunan Gunung Jati juga merupakan sultan sekaligus penerus Kesultanan Cirebon. Menurutnya, sosok yang juga dikenal sebagai Syekh Syarif Hidayatullah itu memperlihatkan keterkaitan erat antara Islam, tradisi lokal, dan warisan budaya pra-Islam.
“Beliau bukan hanya wali, tetapi juga sultan, salah satu penerus Kesultanan Cirebon. Bahkan, beliau merupakan cucu dari Prabu Siliwangi, tokoh besar Pajajaran. Dari situ kita bisa melihat adanya aspek Hindu dan warisan kebudayaan Sunda dalam sejarah beliau,” jelasnya.
Ketum Addin menilai, nilai keberagaman yang melekat pada sosok Sunan Gunung Jati masih tercermin kuat dalam kehidupan sosial masyarakat Cirebon hingga saat ini. Ia menyebut Cirebon sejak lama menjadi ruang hidup bersama bagi berbagai agama dan kepercayaan yang berdampingan secara damai.
“Di Cirebon, kita bisa melihat banyak tempat peribadatan yang berdiri berdampingan. Inilah yang menjadi alasan mengapa Cirebon sering disebut sebagai simbol keberagaman. Nilai-nilai itu sudah hidup dan diwariskan sejak lama,” katanya.
Melalui penyelenggaraan Riyanto Award 2025 di lokasi bersejarah tersebut, PP GP Ansor berharap pesan tentang pentingnya merawat toleransi, persaudaraan, dan kebhinekaan dapat tersampaikan secara lebih mendalam.
Ketum Addin menegaskan, keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan realitas historis yang harus terus dijaga di tengah dinamika kehidupan berbangsa.
Kegiatan awarding ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Ansor dalam menguatkan narasi Islam yang ramah, moderat, dan berorientasi pada persatuan, sejalan dengan spirit kebangsaan yang diwariskan para pendiri bangsa.