Gus Rifqiel: Pengajaran Al-Qur’an tak Boleh Longgar pada Kaidah Dasar

Ilustrasi. UNSPLASH/Masjid MABA

Ikhbar.com: Pengajaran Al-Qur’an di tingkat dasar dinilai masih menyisakan persoalan serius, terutama dalam penerapan kaidah tajwid sejak tahap awal.

Hal itu disampaikan Motivator Al-Qur’an, KH Rifqiel Asyiq, saat menjadi narasumber dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar bertajuk “Mendaras Kebiasaan Tadarus Al-Qur’an” di Ikhbar TV.

Gus Rifqiel, sapaan karibnya, menilai kesalahan yang dibiarkan sejak dini akan sulit diperbaiki pada tahap berikutnya.

“Kenapa enggak langsung benar saja?” ujarnya, dikutip pada Senin, 2 Maret 2o26, saat mencontohkan bacaan basmalah yang dilafalkan “Biiismillah” dengan ketukan lebih panjang dan tidak sesuai dengan kaidah pembelajaran Al-Qur’an.

Pengasuh Pondok Pesantren Dar Al-Qur’an (Daqu) Tegalgubug Cirebon, KH Rifqiel Asyiq (kanan), saat menjadi narasumber dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar bertajuk “Mendaras Kebiasaan Tadarus Al-Qur’an” di Ikhbar TV. Dok IKHBAR

Baca: Gus Rifqiel Ungkap ‘Penyakit’ para Hafiz Al-Qur’an di Indonesia

Ia mengkritik pendekatan yang membiarkan kekeliruan dengan alasan dilakukan secara bertahap.

“Jangan pakai alasan tradisi. Tradisi itu harus mengalah demi kaidah,” tegas pengasuh Pondok Pesantren Dar-Al-Qur’an (Daqu) Tegalgubug, Cirebon, tersebut.

Gus Rifqiel juga mencontohkan kekeliruan dalam ketentuan wasal dan wakaf yang kerap terjadi, termasuk pada bacaan Surah Al-Fatihah. Ia menyebut pemahaman tentang menghidupkan harakat akhir saat wasal sebagai kaidah mendasar yang tidak boleh diabaikan.

“Syarat wasal itu adalah menghidupkan harakat huruf terakhir kalimat,” jelasnya.

Baca: Kiat Rawat Semangat Tadarus Al-Qur’an hingga di Luar Ramadan

Menurutnya, peningkatan religiositas masyarakat dan bertambahnya lembaga pendidikan Al-Qur’an perlu diiringi pengetatan standar pengajaran. Ia mengingatkan pembenahan akan lebih sulit jika kesalahan terlanjur mengakar.

“Maka nanti kalau sudah salah dari awal, kita membereskannya juga susah,” katanya.

Gus Rifqiel menegaskan dakwah tetap penting dan harus dibarengi peningkatan kualitas pengajaran. Tradisi yang berkembang di masyarakat tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan kekeliruan bacaan.

“Jangan kita menormalisasi ‘penyakit’ hanya karena tidak mau melepaskan ego. Kita harus mengakui kalau itu salah,” ujarnya.

Obrolan selengkapnya, bisa disimak di sini:

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.