Emisi Karbon Cina Cenderung Turun, PBB: Patut Dicontoh

Panel tenaga surya di lepas pantai provinsi Shandong, Cina. Foto: The Guardian

Ikhbar.com: Analisis terbaru menunjukkan emisi CO₂ (karbondioksida) Cina dalam 18 bulan terakhir cenderung mendatar atau turun, memberi sinyal target puncak emisi bisa tercapai lebih awal dari jadwal.

Temuan ini muncul di tengah KTT Iklim PBB (COP30) di Brasil, saat kebutuhan pengurangan emisi global kian mendesak.

Dorongan terbesar datang dari pembangkit energi bersih. Pada kuartal III 2025, kapasitas surya dan angin tumbuh masing-masing 46% dan 11%.

Baca: PBB: 250 Juta Warga Mengungsi Akibat Bencana Iklim dalam Satu Dekade

Sepanjang Januari–September 2025, Cina menambah 240 GW (gigawatt) surya dan 61 GW angin. Pada 2024, pemasangan surya mencapai 333 GW, lebih banyak dari gabungan negara lain.

“Cina menghadirkan solusi yang berlaku untuk semua, bukan hanya untuk Cina,” ujar Presiden COP30, André Corrêa do Lago, dikutip dari The Guardian, pada Selasa, 11 November 2025.

Ia menambahkan, biaya panel surya yang kian kompetitif mendorong adopsi global meski gairah negara maju terhadap agenda iklim melemah.

Menurut analisis Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) untuk Carbon Brief, emisi Cina pada kuartal III 2025 relatif tak berubah dibanding setahun sebelumnya, didorong penurunan emisi dari sektor perjalanan, semen, dan baja.

Meski begitu, tren setahun penuh masih bergantung pada kinerja kuartal IV. Skenario historis membuka peluang emisi 2025 justru turun secara tahunan.

Di sisi target, Cina berkomitmen puncak emisi paling lambat 2030 dan netral karbon 2060. Sasaran terbaru (September) menetapkan penurunan emisi gas rumah kaca 7–10% dari puncaknya pada 2035, yang dinilai sebagian pakar terlalu moderat ketimbang potensi penurunan 30%.

Baca: Al-Qur’an Jadi Pengingat Pentingnya Pelestarian Alam

Tantangan lain: intensitas karbon 2020–2025 diproyeksikan meleset, sehingga pemangkasan emisi harus lebih curam menuju 2030.

Dekarbonisasi juga belum merata, permintaan minyak di transportasi turun 5% pada kuartal III, tetapi emisi di kimia dan plastik naik 10%.

Semua mata kini tertuju pada Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030) yang diperkirakan memprioritaskan sistem energi rendah karbon.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.