Ikhbar.com: Serangan Israel selama dua tahun di Gaza telah menyebabkan ekosida (kerusakan lingkungan masif), menghancurkan ekosistem, dan melumpuhkan sistem air, pangan, serta pertanian.
Data Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap kehancuran tersebut telah melampaui konflik-konflik sebelumnya.
Koordinator Jaringan Lingkungan Masyarakat Sipil Palestina, Abeer Butmeh, menyatakan Israel secara sengaja menggunakan sumber daya vital sebagai alat perang.
“Israel menggunakan sumber daya air, makanan, dan energi sebagai senjata perang,” ujar Butmeh, dikutip dari Anadolu, pada Selasa, 21 Oktober 2025.
Baca: Warga Israel Dituding Rusak Infrastruktur Air Tepi Barat
Menurut laporan UNEP, 97% sampel air di Gaza gagal memenuhi standar air minum WHO akibat polusi nitrat dan intrusi air laut.
Sejak serangan dimulai, kapasitas penyimpanan air bersih telah anjlok 84% dan seluruh fasilitas pengolahan air limbah utama tidak lagi beroperasi.
Krisis sanitasi ini memicu lonjakan kasus Hepatitis A hingga 384 kali lipat, dan peningkatan kasus diare sebanyak 36 kali lipat.
Di daratan, analisis satelit UNEP (Oktober 2023 – Mei 2025) menunjukkan kehancuran vegetasi masif.
Sekitar 97% tutupan pohon, 82% tanaman musiman, dan 75% lahan subur di Gaza telah musnah. Akibatnya, 85% petani terpaksa menghentikan produksi.
Kerusakan ekosistem juga mengancam keanekaragaman hayati. Tanaman endemik seperti Matthiola livida tidak lagi dapat diamati di alam liar, dan 90% vegetasi bukit pasir pesisir telah hilang.
Di wilayah pesisir, 92% infrastruktur hancur, menyebabkan 130.000 meter kubik limbah mentah mengalir ke laut setiap hari. Stok ikan dilaporkan turun 50%, menyebabkan 18.000 nelayan kehilangan pekerjaan.
Baca: Israel belum Buka Penyeberangan Rafah, Bantuan Kemanusiaan Terhambat
Serangan ini juga menghasilkan 61 juta ton puing, setara 170.000 ton per kilometer persegi. UNEP menemukan 11% dari puing tersebut mengandung asbes berbahaya.
Kolapsnya 90% sistem pengumpulan sampah mengakibatkan penumpukan 100.000 ton limbah medis dan kimia. Pembakaran limbah darurat menyebabkan polusi udara (PM2.5) di beberapa area melonjak 60 hingga 100 kali lipat di atas batas aman WHO.