Ikhbar.com: Perbedaan waktu terbit dan terbenam matahari membuat waktu berpuasa di sejumlah wilayah lebih singkat dibandingkan negara lainnya. Faktor geografis disebut menjadi penentu utama variasi ini dan selalu menarik perhatian umat Islam setiap tahun.
Fenomena tersebut kembali menjadi sorotan setelah akun Instagram Seasia.stats merilis daftar negara dengan durasi puasa terpendek tahun ini. Data tersebut menunjukkan adanya selisih waktu yang cukup signifikan antarnegara.
Berdasarkan unggahan Seasia.stats, dikutip pada Sabtu, 21 Februari 2026, berikut daftar negara dengan durasi puasa Ramadan terpendek:
- Finlandia – 11 jam 53 menit
- Rusia – 12 jam
- Britania Raya – 12 jam 8 menit
- Spanyol – 12 jam 23 menit
- Turki – 12 jam 23 menit
- Amerika Serikat – 12 jam 25 menit
- Jepang – 12 jam 30 menit
- Pakistan – 12 jam 30 menit
- Arab Saudi – 12 jam 42 menit
- Kenya – 13 jam 19 menit
Sementara itu, durasi puasa di Selandia Baru mencapai 14 jam 50 menit. Afrika Selatan mencatat 14 jam 13 menit, sedangkan Brasil berada di angka 13 jam 47 menit.
Penentuan durasi puasa mengikuti waktu fajar hingga mahrib di masing-masing wilayah. Saat Ramadan berlangsung pada periode tertentu dalam kalender Masehi, sejumlah negara di belahan bumi selatan mengalami siang yang lebih pendek, sehingga waktu puasanya relatif lebih singkat.
Selain itu, perbedaan tersebut berkaitan dengan kemiringan sumbu bumi serta revolusi bumi mengelilingi matahari. Pergantian musim berdampak pada panjang siang dan malam di berbagai garis lintang. Wilayah yang berada dekat garis khatulistiwa cenderung memiliki panjang siang dan malam yang stabil, sedangkan kawasan yang jauh dari khatulistiwa mengalami fluktuasi lebih besar.
Dalam perspektif fikih, umat Islam menjalankan ibadah puasa berdasarkan waktu setempat. Selama batas fajar dan magrib dapat ditetapkan secara jelas, kewajiban puasa tetap berlaku tanpa mempersoalkan panjang atau pendeknya durasi. Prinsip ini menunjukkan fleksibilitas syariat Islam dalam menyikapi perbedaan kondisi geografis.
Sementara durasi puasa Ramadan di kawasan Asia Tenggara relatif moderat dan tidak terlalu ekstrem. Di Indonesia, rata-rata waktu puasa Ramadan 2026 diperkirakan mencapai 13 jam 28 menit.
Data dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menunjukkan kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya memiliki durasi sekitar 13 jam. Wilayah timur Indonesia, termasuk Papua, umumnya mencatat waktu puasa sedikit lebih singkat.
Lebih jauh, kondisi tersebut dipengaruhi posisi geografis Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa. Letak ini membuat perbedaan panjang siang dan malam sepanjang tahun tidak terlalu mencolok, sehingga durasi puasa relatif stabil dibandingkan negara-negara di lintang tinggi.
Perbedaan durasi puasa Ramadan di berbagai negara menjadi bukti bahwa faktor alam berperan besar dalam praktik ibadah. Meski demikian, ketentuan syariat tetap memberikan pedoman yang jelas bagi umat Islam di seluruh dunia.