Ikhbar.com: Israel diketahui mengalami kerugian yang cukup besar usai perang dengan Iran. Data terbaru menunjukkan besarnya beban finansial yang harus ditanggung Israel, baik di sektor militer maupun sipil, setelah konflik selama 40 hari melibatkan Iran dan Hizbullah di Lebanon.
Laporan jurnalis Yuval Sadeh yang disiarkan Channel 12 pada Kamis, 9 April 2026 malam, mengungkap rincian kerugian tersebut pasca pengumuman gencatan senjata sementara pada Rabu pagi. Informasi ini kemudian disiarkan oleh Aljazeera pada Sabtu, 11 April 2026.
Kementerian Keuangan Israel bersama lembaga keamanan memperkirakan biaya langsung sektor pertahanan mencapai 35 miliar shekel (11,5 miliar dolar AS) atau sekitar Rp206 triliun.
Sementara itu, Brigadir Jenderal (Purn.) Ram Aminuach dari Institut Studi Keamanan Nasional memperkirakan total biaya perang sedikit lebih tinggi, yakni sekitar 37 miliar shekel (12,1 miliar dolar AS) atau setara Rp217 triliun.
Baca: Perang vs Iran, Israel Kekurangan 15 Ribu Tentara
“Biaya perang sejauh ini sedikit lebih tinggi,” ujarnya.
Rincian pengeluaran tersebut meliputi:
- 18 miliar shekel (5,9 miliar dolar AS) atau sekitar Rp106 triliun untuk persenjataan
- 7,5 miliar shekel (2,46 miliar dolar AS) atau sekitar Rp44 triliun untuk jam terbang operasional
- 5 miliar shekel (1,64 miliar dolar AS) atau sekitar Rp29 triliun untuk hari cadangan
- 6,5 miliar shekel (2,13 miliar dolar AS) atau sekitar Rp38 triliun untuk kebutuhan lain seperti komputasi dan kerusakan.
Di sektor sipil, Kementerian Keuangan Israel memperkirakan kebutuhan kompensasi mencapai 12–13 miliar shekel atau sekitar Rp70 hingga Rp76 triliun. Dana ini mencakup penggantian kerugian properti serta kompensasi bagi perusahaan yang mengalami penurunan aktivitas usaha selama konflik.
Selain itu, sekitar 1 miliar shekel (0,33 miliar dolar AS) atau setara Rp5,9 triliun dialokasikan untuk program “Galat” bagi pekerja yang tidak dapat bekerja serta bantuan untuk pemerintah daerah.
Otoritas Pajak Israel mengusulkan skema kompensasi dengan nilai lebih rendah, yakni 7,5 miliar shekel (2,46 miliar dolar AS) atau sekitar Rp44 triliun untuk kerugian tidak langsung, serta tambahan 2,5 miliar shekel (0,82 miliar dolar AS) atau sekitar Rp15 triliun untuk kerugian langsung.
Hingga Kamis pagi, tercatat 28.237 klaim kerusakan telah diajukan ke dana kompensasi. Rinciannya meliputi 18.408 klaim kerusakan bangunan, 2.594 klaim kerusakan isi dan peralatan, serta 6.617 klaim kerusakan kendaraan.
Sejumlah wilayah mencatat jumlah klaim tertinggi, di antaranya Tel Aviv sekitar 5.100 klaim, Beersheba sekitar 3.600 klaim, dan Arad sekitar 2.350 klaim. Selain itu, sekitar 2.000 klaim berasal dari Petah Tikva, sekitar 1.500 klaim dari Dimona, serta sekitar 1.400 klaim dari Beit Shemesh.
Di tengah besarnya kerugian tersebut, muncul sorotan dari berbagai kalangan di Israel terkait perbedaan antara pernyataan resmi pemerintah dan kondisi di lapangan. Sejumlah pihak menilai bahwa capaian yang diklaim belum sepenuhnya mencerminkan situasi sebenarnya.
Pihak lawan dinilai masih mampu bertahan, memperbaiki kekuatan, dan melancarkan serangan balasan menggunakan rudal maupun drone. Kondisi ini mendorong evaluasi terhadap strategi militer, sistem intelijen, hingga keputusan politik yang diambil selama konflik.
Penulis senior Yedioth Ahronoth, Nahum Barnea, dalam artikelnya yang terbit Senin, 6 April 2026, mengkritik narasi kemenangan yang digaungkan. Ia menilai klaim tersebut tidak sepenuhnya didukung oleh fakta di lapangan.
“Fakta-fakta itu sendiri tidak mendukungnya,” tulisnya.
Kemampuan lawan untuk terus beradaptasi dan melancarkan serangan balasan menjadi indikator bahwa situasi konflik masih berlangsung dinamis dan belum sepenuhnya berpihak pada Israel.