Ikhbar.com: Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Konsultan Pediatri-Anak Rumah Sakit Umum Hermina, dr. Nilla Mayasari menyarankan orang tua membatasi penggunaan HP pada anak karena berdampak pada kesehatan mental serta tumbuh kembang.
Ia menjelaskan bahwa screen time tidak hanya terbatas pada penggunaan ponsel, tetapi juga mencakup televisi dan perangkat digital lainnya. Batasan durasi penggunaan pun telah diteliti dan direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
“Jadi, sebenarnya untuk screen time bukan hanya gadget aja. Screen time itu bisa televisi, ponsel maupun gadget. Batas penggunaannya itu sudah ada penelitiannya dari WHO (World Health Organization),” ujarnya dikutip dari Antara pada Sabtu, 11 April 2026.
Pernyataan tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui Peraturan Menteri Komdigi Nomor 9 Tahun 2026 tentang pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 terkait perlindungan anak dalam sistem elektronik (PP TUNAS), yang mulai berlaku Jumat, 28 Maret 2026.
Menurut dr. Nilla, anak di bawah usia satu tahun tidak direkomendasikan terpapar gadget. Namun dalam praktiknya, masih banyak orang tua yang memberikan perangkat tersebut, terutama saat anak sulit makan atau mengalami tantrum.
Untuk durasi penggunaan, anak di bawah dua tahun dibatasi maksimal satu jam per hari dengan pembagian waktu, misalnya 30 menit di pagi hari dan 30 menit di sore hari. Anak usia tujuh tahun ke atas juga disarankan tidak melebihi satu jam.
Baca: MUI: Pembatasan Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun Sejalan dengan Ajaran Agama
“Ada banyak penelitian yang mengatakan setiap 30 menit anak nonton screen time, mau gadget, mau televisi itu meningkatkan resiko 2,7 kali ada gangguan komunikasi, dan itu sudah rilis,” ungkap dia.
Ketua PERDOSRI Cabang Sulawesi-Papua itu juga menyambut kebijakan pemerintah karena dinilai sejalan dengan upaya perlindungan anak, termasuk dalam menjaga aktivitas fisik mereka.
“Kalau gadget, mereka terbatas aktivitas fisik. Dengan adanya aturan ini, tentu akan membantu anak-anak harus bermain keluar (tanpa gadget). Karena, bermain keluar itu ada aktivitas fisik yang berguna buat mereka pada fase tumbuhkembangnya, itu pertama,” tuturnya.
Aktivitas bermain di luar ruang juga membantu anak mengembangkan kemampuan sensori dan interaksi sosial. Anak tidak hanya terpaku pada dunia digital, tetapi belajar berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
“Memang anak-anak itu adalah waktunya bermain. Karena di situlah proses belajar, proses input sensori dengan temannya, dengan lingkungannya, ini menjadi proses untuk kebutuhan intelektual nanti,” jelas dia.
Paparan layar yang berlebihan disebut dapat berdampak pada menurunnya kemampuan fokus atau attention span anak, terutama akibat konsumsi konten digital yang terus-menerus.
Sebagai pembina Komunitas Orang Tua Anak dengan Sindroma Down (KOADS), Nilla juga meminta orang tua memastikan perkembangan anak berjalan sesuai tahap usia.
“Kita tidak boleh kehilangan fase emas anak. Sebenarnya, orang tua mesti memiliki buku pink (merah jambu) bagi anak balita. Bisa dilihat, apakah anaknya sesuai atau tidak. Ketika milestone dari perkembangan bicara, komunikasi, interaksi, atau pun kognisi tidak sesuai, segera periksakan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa deteksi dini diperlukan untuk mengetahui kondisi anak sejak awal. Peran orang tua menjadi kunci dalam pengawasan, termasuk menyediakan waktu bersama keluarga agar anak mendapatkan stimulasi yang optimal.