Ikhbar.com: Pakar Tafsir Al-Qur’an, Prof. Dr. KH Muhammad Quraish Shihab menegaskan bahwa perkembangan Artificial Intelligence (AI) alias kecerdasan buatan harus dipahami dengan cara yang bijak dan berlandaskan nilai-nilai keilmuan Islam.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam seminar nasional bertema Ketika Ulama Bertemu Algoritma yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Selasa, 9 Desember 2025.
Pada acara yang bekerja sama dengan Majelis Hukama Muslimin (MHM) itu, Prof. Quraish memaparkan tiga pendekatan penting dalam menyikapi AI agar masyarakat tidak terjebak pada euforia teknologi semata.
Pendiri sekaligus Anggota MHM itu menjelaskan bahwa fenomena AI dapat ditanggapi dengan tiga cara. Pertama, menggunakan pandangan lama apa adanya. Kedua, memakai perspektif baru secara total. Ketiga, memadukan pandangan baru dengan nilai tradisi yang sudah mapan.
Baca: Indonesia Jadi Negara Pengguna AI Terbanyak ke-3 di Dunia
“Saya kira cara ketiga inilah yang hendak kita tempuh. Tidak terlepas dari nilai-nilai lama,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa AI mampu memproduksi dan menyebarkan informasi dalam jumlah besar, namun penerimaan informasi tetap memerlukan etika ilmu. Dalam tradisi hadis, kredibilitas penyampai informasi menjadi syarat utama.
“Nilai itu dulu ditemukan dalam ilmu hadis. Ini yang harus kita terapkan ketika kita memperoleh informasi dari siapapun atau apapun,” jelasnya.
Prof. Quraish menambahkan bahwa kecerdasan moral dan spiritual tidak boleh ditinggalkan, sebab dua orang dapat menghasilkan keputusan berbeda dalam kasus yang sama.
Keputusan paling tepat lahir dari mereka yang memperoleh hikmah dan bimbingan ilahi. Ia juga menyoroti bahwa jawaban keagamaan bersifat kontekstual.
“AI tidak mengenal saya yang bertanya, tidak mengenal problema saya, bagaimana dia mau menjawab dengan tepat,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur MHM Indonesia Muchlis M Hanafi dalam sambutannya menilai bahwa AI membawa perbedaan antara ilmu dan hikmah.
“Mesin dapat meniru ilmu, namun mesin tidak bisa menghadirkan hikmah,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, anggota Komite Eksekutif MHM, Dr. KH TGB M Zainul Majdi, menyebut perkembangan AI tidak mengancam eksistensi agama maupun kedudukan manusia sebagai khalifah.
“Manusia, akan selalu menjadi khalifah,” ujarnya.
Menurut TGB, kekhawatiran bahwa AI akan mengambil alih kreativitas manusia berlebihan. Dalam Islam, manusia bukan hanya makhluk berpikir, tetapi pemilik hikmah dan spiritualitas yang tidak dapat digantikan mesin.
Ia mencontohkan sejarah Islam yang pernah mengalami perjumpaan besar dengan peradaban Persia dan Romawi namun tetap menemukan hikmah dalam perubahan itu.
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Prof Amin Abdullah menilai maraknya AI dan platform digital membuat otoritas keagamaan terfragmentasi.
“Suka atau tidak suka, saat ini ada terfragmentasi otoritas,” tegasnya.
Ia memberikan perhatian serius pada menurunnya minat baca generasi muda. Mereka cenderung menginginkan jawaban instan dalam hitungan detik. Baginya, hal ini berpotensi melemahkan pemahaman agama secara mendalam.
“Ini yang membahayakan, penurunan literasi keagamaan di tingkat generasi muda,” ujarnya.
Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan menilai otoritas keagamaan kini lebih cair akibat perkembangan media digital. Kondisi ini bisa menjadi peluang demokratisasi wacana agama, namun juga membuka ruang bagi pandangan ekstrem yang tidak bertanggung jawab.
Prof Noorhaidi menekankan empat strategi agar ulama tetap relevan di era algoritma: keterlibatan audiens, personalisasi konten, konsistensi unggahan, serta pemahaman kebutuhan umat.
“Jika ulama masih membaca audiens ini seperti audien masa lalu, maka relevansi mereka akan memudar,” tandasnya.
Pakar AI UGM, Dr. Mardhani Riasetiawan mengajak publik memahami AI sebagai alat ciptaan manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan.
“Kalau kita memahami AI sebagai sesuatu yang buatan, maka kita menyadari bahwa itu pasti ada kelemahan dan kelebihannya,” tuturnya.
Ia menilai digitalisasi khazanah keagamaan sangat penting agar AI dapat menjadi sarana penguatan otoritas ilmu, bukan justru menyesatkannya.
“Tantangan ke depan adalah bagaimana kita menjadi orang yang bisa melakukan digitalisasi lalu mengkurasi untuk difeeding dalam AI,” pungkasnya.