Ikhbar.com: Musabaqah Hifzil Qur’an (MHQ) atau Lomba Hafalan Qur’an khusus penyandang disabilitas tunanetra yang diikuti peserta dari 12 negara resmi digelar sebagai ajang internasional perdana di Jakarta.
Kompetisi ini menjadi momentum penting yang menandai komitmen Indonesia terhadap inklusivitas dalam dakwah Al-Qur’an. Selain itu, ajang ini digelar untuk membuka ruang pembuktian bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi prestasi dan kecintaan terhadap Kalamullah.
Kompetisi ini digelar atas kerja sama antara Kementerian Agama (Kemenag) dengan Muslim World League (MWL) atau Liga Muslim Dunia. Perhelatan yang sarat nuansa religius dan humanis tersebut mendapat perhatian publik karena menjadi pertama kalinya MHQ dirancang khusus bagi penghafal tunanetra.
Baca: Daftar Juara Olimpiade PAI Kemenag 2025
Kehadiran delegasi dari berbagai negara menambah warna pada kompetisi yang mengusung nilai persaudaraan dan inklusi ini.
Sekretaris Jenderal Kemenag, Kamaruddin Amin, dalam pidato pembukaan menekankan makna mendalam dari kegiatan tersebut. Ia menyebut bahwa MHQ tidak hanya menghadirkan hafalan ayat, melainkan menunjukkan bahwa kekuatan hati mampu melampaui keterbatasan visual. Konsep bashirah (penglihatan hati) menjadi poin utama yang ia tekankan di hadapan para peserta dan tamu internasional.
“Saudara-saudara kita para peserta di sini telah membuktikan kepada dunia bahwa pandangan batin (bashiirah) lebih mendalam daripada pandangan mata (bashar). Dan bahwa cahaya Al-Qur’an, apabila bersemayam di dalam hati, akan mencukupi pemiliknya dari setiap kekurangan indra,” ujar Kamaruddin dalam Bahasa Arab pada Rabu, 3 Desember 2025.
Lantunan ayat suci dari para huffadz tunanetra menghadirkan suasana haru di arena perlombaan. Banyak peserta berlatih dengan metode berbeda, mulai dari pendalaman hafalan melalui audio hingga memanfaatkan mushaf Braille. Bagi mereka, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi cahaya yang menguatkan batin dan menjadi penuntun dalam menjalani kehidupan.
Momentum pelaksanaan lomba yang bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional semakin mempertegas pesan kesetaraan. MHQ Internasional ini diharapkan menjadi ruang berkelanjutan bagi para disabilitas netra untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam menjaga ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Selain menjadi kompetisi hafalan, kegiatan ini menjadi titik temu dunia Islam untuk memperkuat ukhuwah. Nilai kemanusiaan dan spiritualitas hadir beriringan, menegaskan bahwa kemuliaan seseorang di hadapan Allah Swt tidak ditentukan oleh kesempurnaan fisik, melainkan oleh ketakwaan dan amalan.
Kemenag bersama MWL berharap gelaran ini mampu memancarkan pesan kedamaian serta menginspirasi banyak orang mengenai kekuatan hati dan keteguhan para penghafal Qur’an tunanetra. Ajang ini menjadi bukti nyata bahwa Al-Qur’an hadir sebagai sumber cahaya bagi siapa pun tanpa batasan.