Ikhbar.com: Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengingatkan calon jemaah haji (calhaj) untuk lebih waspada terhadap maraknya penipuan yang mengatasnamakan validasi data.
Peringatan ini disampaikan menyusul meningkatnya upaya pencurian data pribadi melalui pesan singkat maupun panggilan dari pihak tidak dikenal.
Imbauan tersebut disalurkan melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemenhaj sebagai langkah antisipasi terhadap berbagai modus penipuan yang kini menyasar langsung calon jemaah haji.
Kepala Pusdatin, Farosa mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan beragam pola penipuan yang memanfaatkan kelengahan masyarakat, terutama terkait permintaan pembaruan data pribadi.
“Materi ini disusun sebagai upaya peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi penyalahgunaan data pribadi yang dapat dimanfaatkan untuk penipuan hingga pengajuan pinjaman online secara ilegal,” ungkap Farosa di Jakarta, Selasa, 7 April 2026.
Baca: Presiden Minta Kenaikan Ongkos Haji Akibat Konflik Timteng tak Dibebankan ke Jemaah
Dari hasil pemantauan, pelaku penipuan kerap menjalankan sejumlah modus, di antaranya:
- Menghubungi calon jemaah melalui WhatsApp
- Mengaku sebagai petugas resmi Kementerian Haji dan Umrah
- Meminta pembaruan atau verifikasi data pribadi
- Mengajak video call dengan alasan perekaman wajah.
Praktik video call menjadi perhatian serius karena berpotensi disalahgunakan untuk pengambilan data biometrik korban.
Kemenhaj menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan data pribadi sebagai langkah utama mencegah penipuan. Calon jemaah diminta tidak langsung mempercayai pihak yang mengaku dari instansi resmi tanpa melakukan pengecekan.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tidak sembarangan membuka tautan yang tidak jelas asal-usulnya karena berisiko menjadi pintu masuk pencurian data.
Dalam upaya edukasi publik, Kemenhaj menggaungkan kampanye #DataAmanIbadahNyaman guna meningkatkan kesadaran jemaah dalam melindungi informasi pribadi.
Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
- Memastikan informasi hanya diperoleh dari kanal resmi Kemenhaj
- Menghindari tautan mencurigakan
- Tidak memberikan data pribadi kepada pihak yang tidak dikenal.
“Masyarakat yang menerima komunikasi mencurigakan diminta untuk segera melapor atau melakukan verifikasi melalui akun media sosial resmi Kementerian Haji dan Umrah atau mendatangi kantor wilayah kementerian terdekat,” pungkas Farosa.
Pusdatin Kemenhaj memastikan akan terus memperkuat sistem keamanan digital melalui evaluasi berkala guna menjaga perlindungan data jemaah.