Iran Kecam AS usai Diduga Langgar Poin Penting Gencatan Senjata

Ilustrasi warga Iran. Foto: Getty Images

Ikhbar.com: Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat (AS) berkhianat dari kesepakatan setelah diduga melanggar sejumlah poin penting dalam proposal penghentian perang yang menjadi dasar gencatan senjata.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menyampaikan bahwa tiga klausul dalam proposal 10 poin yang diajukan Teheran telah diabaikan oleh pihak AS, bahkan sebelum proses perundingan resmi dimulai.

“Ketidakpercayaan historis yang mendalam yang kami miliki terhadap AS berakar pada pelanggaran berulang terhadap berbagai bentuk komitmen-sebuah pola yang, sayangnya, kembali terulang,” tulis Ghalibaf dalam unggahan di media sosial X pada Rabu, 8 April 2026, beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata.

Baca: 5 Alasan Trump Pilih Gencatan Senjata dengan Iran

“Kini, dasar yang dapat dijadikan pijakan untuk bernegosiasi justru telah dilanggar secara terbuka dan jelas, bahkan sebelum perundingan dimulai. Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata bilateral maupun negosiasi menjadi tidak masuk akal,” lanjutnya.

Ia mengungkapkan, salah satu poin yang dinilai dilanggar berkaitan dengan cakupan wilayah gencatan senjata yang seharusnya juga mencakup Lebanon. Hal ini sebelumnya turut disampaikan oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang berperan sebagai mediator.

Selain itu, Iran juga menyoroti masih adanya aktivitas drone yang menyusup ke wilayah udara mereka setelah kesepakatan diumumkan. Menurut Ghalibaf, kejadian tersebut bertentangan dengan klausul yang melarang pelanggaran wilayah selama masa gencatan.

Isu lain yang menjadi sorotan adalah sikap AS dan Israel yang dinilai belum mengakui hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium, yang merupakan bagian dari proposal yang diajukan Teheran.

Di sisi lain, Gedung Putih tetap berpegang pada sikap bahwa penghentian seluruh aktivitas pengayaan uranium oleh Iran merupakan garis merah. Kebijakan ini sejalan dengan tuntutan Presiden AS, Donald Trump, dalam upaya meredam konflik.

Padahal, pada hari pengumuman gencatan senjata, Trump sempat menyatakan menerima proposal 10 poin dari Iran sebagai dasar pembahasan damai ke depan.

“Ini akan menjadi GENCATAN SENJATA dua arah,” tulis Trump melalui akun media sosialnya.

“Alasan kami melakukan ini adalah karena kami telah memenuhi dan melampaui semua tujuan militer, serta sudah sangat dekat dengan kesepakatan definitif terkait perdamaian jangka panjang dengan Iran dan perdamaian di Timur Tengah. Kami telah menerima proposal 10 poin dari Iran, dan menilai itu sebagai dasar yang dapat digunakan untuk bernegosiasi,” ujarnya.

Kesepakatan gencatan senjata tercapai setelah Trump menyetujui penundaan serangan lanjutan terhadap Iran selama dua pekan. Sebagai bagian dari kesepahaman tersebut, Teheran menyatakan kesiapan membuka akses di Selat Hormuz dan memulai jalur dialog.

Langkah itu direspons Iran sebagai keberhasilan diplomasi karena tuntutan mereka diakomodasi. Sementara itu, Trump juga menyampaikan klaim keberhasilan dengan alasan operasi militer AS telah mencapai target yang ditetapkan.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.