Ikhbar.com: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan menempuh gencatan senjata dengan Iran dengan menunda serangan militer selama dua pekan. Kebijakan ini diambil dengan sejumlah pertimbangan strategis, mulai dari tekanan ekonomi global hingga dinamika politik dalam negeri AS.
Trump sebelumnya mengumumkan penghentian sementara pemboman terhadap infrastruktur energi Iran. Keputusan itu disertai syarat agar Teheran membuka Selat Hormuz secara penuh dan aman sebagai bagian dari kesepakatan.
Ia juga menilai proposal 10 poin yang diajukan Iran melalui Pakistan dapat menjadi dasar awal perundingan, meski belum sepenuhnya memenuhi harapan Washington. Trump tetap memberi peringatan akan melanjutkan serangan jika kesepakatan final tidak tercapai dalam tenggat waktu yang ditentukan.
Berikut 5 alasan diduga kuat Trump pilih gencatan senjata:
Dampak ekonomi jadi pertimbangan
Peneliti diplomatik di Middle East Institute, Alan Eyre menilai keputusan Trump tidak lepas dari kekhawatiran terhadap dampak ekonomi yang semakin berat akibat konflik.
“Trump kemungkinan sangat khawatir terhadap dampak ekonomi perang dan kendali Iran atas Selat Hormuz, sehingga memilih menghentikan eskalasi,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Baca: Iran-AS Genjatan Senjata, Selat Hormuz Dibuka Dua Minggu
Ia menambahkan bahwa langkah tersebut memberi ruang bagi AS untuk mengurangi tekanan sekaligus memperbaiki situasi yang telah berkembang.
Tekanan pemakzulan menguat
Dari dalam negeri, tekanan politik juga meningkat. Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Alexandria Ocasio-Cortez kembali menyerukan pemakzulan terhadap Trump meski gencatan senjata diumumkan.
“Presiden telah mengancam genosida terhadap rakyat Iran, dan terus memanfaatkan ancaman itu,” ujarnya dalam pernyataan di media sosial.
Ia menegaskan bahwa keputusan gencatan senjata tidak mengubah kekhawatiran terhadap kebijakan luar negeri Trump.
Minim opsi strategis
Direktur Quincy Institute, Trita Parsi menyebut keputusan Trump diambil karena keterbatasan pilihan di meja diplomasi.
“Dia tidak memiliki banyak pilihan yang menguntungkan. Perang yang lebih luas berpotensi merusak kepresidenannya,” katanya.
Parsi menilai eskalasi konflik dapat memicu krisis energi global yang lebih besar, terutama jika Iran membalas dengan menyerang fasilitas energi di kawasan Teluk.
Akses selat hormuz
Dari sisi Gedung Putih, Sekretaris Pers Karoline Leavitt menilai langkah ini sebagai capaian strategis.
“Keberhasilan militer kita menciptakan pengaruh maksimal dan membuka peluang negosiasi menuju solusi diplomatik,” ujarnya.
Ia juga menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai bagian penting dari hasil kebijakan tersebut.
Tekanan harga minyak global
Faktor lain yang memengaruhi keputusan ini adalah stabilitas pasar energi. Analis dari Economist Intelligence Unit, Alex Holmes menyebut pasar mulai merespons positif meski masih diliputi ketidakpastian.
“Pasar masih menunggu kejelasan apakah gencatan senjata ini akan bertahan,” ujarnya.
Laporan Reuters mencatat harga minyak mentah AS turun sekitar 16% menjadi 94,59 dolar AS per barel, sementara Brent melemah 15 persen ke level 92,35 dolar AS. Pasar saham Asia juga menguat, termasuk indeks Nikkei Jepang dan Kospi Korea Selatan.
Perkembangan ini terjadi di tengah belum pastinya implementasi penuh gencatan senjata antara AS dan Iran.