Calhaj Wajib Tahu! Ini Tips Terhindar Dehidrasi di Tanah Suci

Ilustrasi keberangkatan jemaah haji. Foto: MCH 2022

Ikhbar.com: Dokter dan ahli gizi masyarakat, Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum mengingatkan bahwa kecukupan cairan menjadi faktor penting untuk mencegah dehidrasi bagi calon jemaah haji di Tanah Suci.

Suhu ekstrem di Arab Saudi menjadi tantangan serius yang dapat mengganggu kesehatan dan kelancaran ibadah jika tidak diantisipasi dengan baik. Untuk itu, menjelaskan bahwa kebutuhan cairan harian setiap orang harus diperhitungkan secara tepat.

“Kebutuhan cairan orang dewasa sekitar 30 ml sampai 35 ml per kilogram berat badan per hari. Jadi, orang dewasa dengan berat badan 60 kg kebutuhan cairannya berkisar 1,8 liter sampai 2,1 liter per hari,” ujarnya dikutip dari Antara, Selasa, 7 April 2026.

Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui konsumsi minuman maupun makanan yang mengandung air. Pemenuhan cairan menjadi krusial mengingat aktivitas ibadah haji berlangsung di tengah cuaca panas yang dapat mempercepat kehilangan cairan tubuh.

Dr. Tan mengingatkan bahwa rasa haus bukanlah indikator awal tubuh kekurangan cairan. Ia menekankan pentingnya memahami sinyal tubuh secara tepat.

“Bukan haus. Haus tanda akhir dehidrasi,” ujarnya.

Baca: Pemerintah Imbau Umat Muslim tak Tergiur Tawaran Haji tanpa Antre, Ini Bahayanya!

Menurutnya, indikator yang lebih akurat dapat dilihat dari warna urine. Kondisi tubuh yang terhidrasi dengan baik ditandai urine berwarna jernih hingga kuning muda. Sebaliknya, warna kuning pekat menunjukkan tubuh mulai mengalami kekurangan cairan.

Selain memastikan asupan air terpenuhi, jemaah juga diminta membatasi konsumsi minuman seperti kopi dan teh. Kedua minuman tersebut dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil yang berdampak pada berkurangnya cairan tubuh.

Sementara itu, Ahli gizi dan dosen ilmu kesehatan masyarakat Universitas Faletehan Serang, dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes mengingatkan pentingnya menjaga pola konsumsi, terutama menjelang keberangkatan haji.

“Minuman yang tambahan gulanya banyak mulai dihindari agar metabolik tetap sehat,” kata dr. Rita.

Ia juga menyoroti makanan tinggi gula yang perlu dikurangi selama persiapan ibadah.

“Donat, roti-roti coklat, kemudian biskuit-biskuit yang banyak krimnya, itu mulai dikurangi atau bahkan jangan dikonsumsi dulu selama satu bulan ini untuk menghindari asupan gula berlebih supaya metaboliknya tetap sehat,” tuturnya.

Rita menyarankan jemaah mulai membiasakan pola makan dengan makanan alami yang minim proses pengolahan.

“Lebih baik mulai melatih konsumsi makanan real food agar tubuh lebih siap,” katanya.

Upaya menjaga hidrasi dan pola makan seimbang menjadi bagian penting dalam mempersiapkan kondisi fisik. Dengan tubuh yang terjaga, jemaah dapat menjalani seluruh rangkaian ibadah haji secara optimal di tengah kondisi lingkungan yang menuntut daya tahan tinggi.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.