Ikhbar.com: Sejumlah anak muda Arab Saudi memilih meninggalkan ponsel pintar dan beralih ke perangkat sederhana sebagai respons atas tekanan digital yang kian meningkat. Pergeseran ini menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental di tengah intensitas penggunaan teknologi yang tinggi.
Langkah tersebut terlihat di berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga pekerja kreatif. Mereka menilai penggunaan smartphone yang terus-menerus memicu kelelahan akibat notifikasi tanpa jeda, kebiasaan menggulir layar berkepanjangan, serta menurunnya kemampuan fokus dalam aktivitas harian.
Fenomena ini dikenal dengan istilah digital minimalism, yaitu pendekatan hidup yang menekankan pembatasan penggunaan teknologi untuk mengembalikan kendali atas waktu dan pikiran.
Kreator konten asal Riyadh, Noura Al-Qahtani mengaku keputusannya mengganti smartphone dengan ponsel sederhana membawa perubahan signifikan.
“Aku tidak sadar berapa banyak waktuku hilang hanya untuk scrolling,” ujarnya dikutip dari Arab News pada Senin, 6 April 2026.
Baca: Healing Boleh, Hilang Jangan! Tips Jaga Kesehatan Mental ala Ning Vela
Ia sempat merasakan suasana yang berbeda saat awal beralih, namun kondisi tersebut justru membantunya lebih fokus dan produktif.
Tingginya paparan digital di Arab Saudi menjadi salah satu pemicu tren ini. Data menunjukkan tingkat penggunaan media sosial telah melampaui 90%, dengan durasi rata-rata lebih dari tiga jam setiap hari.
Mahasiswa seperti Abdulrahman Al-Harbi merasakan dampak langsung saat menghadapi masa ujian. “Saya belajar, tapi setiap beberapa menit refleks mengecek ponsel,” katanya.
Setelah beralih ke perangkat sederhana, ia menilai gangguan utama bukan pada materi belajar, melainkan pola pikir yang mudah terpecah.
Perubahan pola penggunaan teknologi juga dilakukan dengan pendekatan campuran. Sebagian pengguna tetap memiliki smartphone, tetapi tidak membawanya setiap saat. Sara Al-Zahrani, misalnya, hanya menggunakan ponsel sederhana saat beraktivitas di luar rumah.
“Pikiran saya terasa lebih tenang. Tidak terus-menerus bereaksi,” katanya.
Dampak penggunaan teknologi turut dirasakan dalam pemanfaatan kecerdasan buatan seperti ChatGPT. Omar Al-Salem mengaku sempat bergantung pada teknologi tersebut untuk berbagai kebutuhan.
“Awalnya membantu. Tapi lama-lama saya merasa tidak berpikir sedalam dulu,” ujarnya.
Setelah mengurangi penggunaan, ia merasakan peningkatan dalam kualitas berpikir.
Para ahli menilai paparan digital berlebih berdampak pada kesehatan mental dan kualitas tidur. Penggunaan layar sebelum waktu istirahat diketahui dapat mengganggu produksi melatonin, hormon yang berperan dalam siklus tidur. Kondisi ini membuat seseorang lebih sulit mendapatkan tidur yang optimal.
Perubahan perilaku ini menunjukkan upaya sebagian masyarakat dalam mengatur ulang interaksi dengan teknologi di tengah perkembangan digital yang pesat.