Ikhbar.com: Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) KH Mochamad Irfan Yusuf mengatakan bahwa gangguan penerbangan akibat perang Iran-Amerika Serikat (AS) berdampak langsung pada perjalanan umrah, dengan jemaah mandiri menjadi pihak yang paling berisiko dalam situasi ini.
Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menegaskan bahwa jemaah yang berangkat menggunakan travel resmi memiliki tingkat perlindungan yang lebih baik dibandingkan dengan jemaah mandiri. Hal ini berkaitan dengan tanggung jawab penyelenggara dalam menangani berbagai kendala perjalanan.
Untuk memastikan penanganan berjalan optimal, pemerintah telah memanggil seluruh penyelenggara travel umrah. Langkah ini dilakukan agar jemaah yang terdampak keterlambatan penerbangan tetap mendapatkan layanan, termasuk pengaturan akomodasi dan penjadwalan ulang tiket.
Baca: Menhaj Pastikan Haji 2026 Tetap Terlaksana, Tak Perlu Khawatir Perang Iran-AS
“Ya memang beberapa travel-travel besar relatif masih bisa. Tapi berapa travel kecil itu sudah teriak-teriak ini. Bagaimana mereka mengelola jemaah yang tertahan 3-4 hari. Belum lagi harus mencari tiket baru,” ujar sosok yang karib disapa Gus Irfan itu pada Jumat, 27 Maret 2026.
Menhaj menegaskan bahwa seluruh penyelenggara tetap bertanggung jawab terhadap jemaah yang mereka layani, terutama dalam kondisi darurat yang memerlukan penanganan cepat dan terkoordinasi.
Di sisi lain, jemaah yang berangkat secara mandiri menghadapi tantangan lebih besar karena tidak memiliki perlindungan dari penyelenggara. Seluruh kebutuhan, termasuk biaya tambahan akibat gangguan perjalanan, harus ditanggung secara pribadi.
“Kalau umrah mandiri, hampir tidak ada yang menjamin. Kalau harus menambah biaya, mereka tanggung sendiri,” jelasnya.
Meski tidak terlibat dalam urusan bisnis perjalanan, pemerintah tetap melakukan pendataan terhadap seluruh jemaah, termasuk yang berangkat tanpa travel resmi. Pendataan ini menjadi dasar untuk memantau pergerakan jemaah sejak keberangkatan hingga lokasi transit.
“Kita ingin tahu siapa berangkat, kapan, dan sekarang ada di mana. Ini untuk mengantisipasi kondisi seperti sekarang,” kata Gus Irfan.
Kemenhaj mengingatkan agar umat Muslim mempertimbangkan aspek keamanan dalam memilih skema perjalanan ibadah. Travel resmi dinilai memiliki sistem penanganan yang lebih terstruktur ketika terjadi gangguan perjalanan internasional.