Oleh: Evriza Balqis Aprilia
(Santri Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon asal Riau)

MENUNTUT ilmu di pesantren tidak cukup dengan kesiapan mental dan biaya. Kondisi fisik yang prima juga diperlukan. Aktivitas santri yang padat, mulai dari mengaji, belajar, hingga menjalankan rutinitas harian, menuntut tubuh tetap kuat agar seluruh kegiatan berjalan optimal, terutama pada bulan Ramadan ketika intensitas ibadah meningkat.
Kesehatan menjadi aspek penting yang kerap terabaikan. Tanpa tubuh yang bugar, proses belajar mudah terganggu. Konsentrasi menurun, semangat melemah, bahkan ibadah tidak berjalan maksimal. Karena itu, menjaga kesehatan merupakan bagian dari ikhtiar dalam menuntut ilmu sekaligus wujud syukur atas nikmat tubuh yang diberikan Allah Swt.
Baca: Berebut Saf Keberkahan
Al-Qur’an memberikan isyarat tentang pentingnya keseimbangan, termasuk dalam mengatur pola makan. Dalam QS. Al-A’raf ayat 31, Allah Swt berfirman:
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ
“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa menjaga kesehatan dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari, yaitu mengatur pola makan secara seimbang, tidak berlebihan, serta tetap memenuhi kebutuhan tubuh.
Dalam kehidupan pesantren, perhatian terhadap kesehatan juga terlihat dari peran pengasuh Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur, Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Ny. Hj. Tho’atillah Ja’far.
Sosok yang akrab disapa Bunda Tho’ah tersebut kerap mengingatkan santri agar menghindari makanan instan, makanan terlalu pedas, serta jajanan yang kurang higienis.
Baca: Nasihat Sabar dari ‘Ayah’ dan ‘Bunda’
Pada bulan Ramadan, upaya menjaga kesehatan di pesantren terasa lebih nyata. Waktu sahur yang terbatas melatih santri untuk disiplin bangun malam dan memilih makanan yang mengenyangkan serta bergizi. Rasa kantuk sering muncul saat mengaji selepas sahur, sementara tubuh masih beradaptasi dengan perubahan pola makan.
Menjelang berbuka, suasana pesantren dipenuhi kebersamaan. Santri belajar menahan diri, bukan hanya dari lapar dan dahaga, tetapi juga dari keinginan berlebihan saat berbuka. Pada momen ini, pengendalian diri benar-benar diuji, apakah berbuka secukupnya atau berlebihan. Pengalaman tersebut menumbuhkan kesadaran bahwa kesehatan tidak hanya ditentukan oleh jenis makanan, tetapi juga cara mengonsumsinya.
Selain itu, aktivitas malam seperti tarawih, tadarus, dan mengaji kitab memerlukan stamina yang cukup. Santri yang mampu mengatur waktu istirahat, meskipun terbatas, akan lebih siap menjalani rangkaian ibadah tersebut. Sebaliknya, kurangnya perhatian terhadap kondisi tubuh membuat tubuh mudah lelah sehingga ibadah tidak berjalan optimal.
Dengan menerapkan pola hidup sehat, mulai dari menjaga pola makan, mengatur waktu istirahat, hingga memenuhi kebutuhan cairan tubuh, santri dapat menjalani kehidupan pesantren secara optimal. Kondisi tubuh yang terjaga mendukung semangat belajar, memperkuat daya tahan, serta meningkatkan kualitas dalam menuntut ilmu.
Menjadi santri tidak hanya tentang memperdalam ilmu agama, tetapi juga belajar menjaga diri. Tubuh yang sehat menjadi modal utama untuk meraih keberkahan ilmu dan menjalani kehidupan dengan baik. Ramadan menjadi momentum untuk membuktikan bahwa kesehatan dan ibadah dapat berjalan selaras serta saling menguatkan dalam setiap langkah menuntut ilmu.