Hati-hati! Tubuh Bisa ‘Kaget’ saat Transisi Puasa ke Lebaran

Ilustrasi. PEXELS/Faisal Nurmansyah

Ikhbar.com: Perubahan pola makan saat Lebaran perlu diwaspadai. Setelah satu bulan berpuasa, tubuh telah beradaptasi dengan ritme yang lebih teratur. Saat Idulfitri tiba, kebiasaan tersebut sering berubah drastis dalam waktu singkat.

Ahli gizi, Ustazah Yuswati, S.KM., M.Kes menjelaskan bahwa selama Ramadan tubuh mengalami penyesuaian metabolik yang signifikan. Ritme makan yang terbatas membuat sistem pencernaan bekerja lebih teratur, termasuk dalam mengelola hormon dan energi.

“Setelah sebulan berpuasa, tubuh sebenarnya sudah mengalami adaptasi metabolik yang cukup signifikan,” kata Ustazah Yuswati kepada Ikhbar.com, Rabu, 18 Maret 2026.

Baca: Fitrah Adalah Komitmen Moral Berkelanjutan

Perubahan mendadak saat Lebaran, lanjutnya, dapat menjadi beban bagi tubuh. Berbagai hidangan seperti ketupat, opor, rendang, hingga kue manis biasanya disajikan dalam waktu bersamaan. Kondisi ini membuat tubuh menerima asupan energi dalam jumlah besar sekaligus.

Dari sisi kesehatan, kondisi tersebut perlu diwaspadai. Tubuh yang sebelumnya terbiasa dengan pola makan terkontrol harus menghadapi lonjakan asupan karbohidrat, lemak, dan gula.

“Nah, dampak yang sering muncul antara lain rasa begah atau tidak nyaman di perut, lonjakan gula darah, rasa kantuk setelah makan bahkan pada sebagian orang dapat memicu naiknya tekanan darah atau asam lambung,” ujarnya.

Situasi ini kerap terjadi karena banyak orang ingin mencicipi semua hidangan yang tersedia. Kebiasaan tersebut justru memperberat kerja sistem pencernaan yang masih dalam proses adaptasi.

Ustazah Yuswati menekankan pentingnya kembali ke pola makan secara bertahap. Tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dari pola puasa ke pola makan normal.

“Lebaran bukan lomba mencicipi semua hidangan sekaligus,” ucapnya.

Baca: Kiat agar ‘Makeup’ Tetap Segar dan Awet di Hari Lebaran

Wakil Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) KHAS Kempek Cirebon tersebut menyarankan masyarakat memulai dengan porsi kecil dan tidak terburu-buru menambah makanan. Selain itu, konsumsi air putih perlu diperbanyak karena sering diabaikan.

Pendekatan ini dinilai lebih aman karena memberi ruang bagi sistem pencernaan untuk kembali bekerja optimal. Dengan jeda waktu yang cukup antarwaktu makan, tubuh dapat merespons asupan dengan lebih baik.

Dalam praktiknya, pola makan terkontrol juga membantu menjaga stabilitas energi selama aktivitas silaturahmi. Tanpa pengaturan yang baik, tubuh lebih mudah lelah akibat lonjakan gula darah.

Ustazah Yuswati menambahkan bahwa kunci menjaga kesehatan saat Lebaran terletak pada kesadaran mengatur pola makan. Tidak ada larangan mutlak terhadap jenis makanan, tetapi pengendalian porsi perlu diperhatikan.

“Mulailah dengan porsi kecil, perbanyak air putih dan beri jeda waktu sebelum menambah makanan,” katanya.

Menurutnya, langkah sederhana tersebut efektif mencegah berbagai gangguan kesehatan yang kerap muncul setelah Lebaran. Dengan cara ini, tubuh tetap nyaman meski pola makan berubah.

“Tubuh akan jauh lebih nyaman jika kita memberi kesempatan sistem pencernaan beradaptasi kembali secara perlahan,” tutupnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.