Oleh: Nurfadhilah
(Santri Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon asal Indramayu, Jawa Barat)

MALAM yang teduh menyelimuti lingkungan pondok. Di teras Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur, Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, para santri menikmati suasana yang tenang. Angin berembus pelan, menyusup di sela percakapan yang mulai mereda. Aroma masakan dari dapur pondok perlahan tercium, menggugah selera dan menandakan waktu sahur kian dekat.
Kesunyian seketika terpecah ketika bel berbunyi, “kring… kring!!!” menandakan waktu sahur telah tiba. Satu per satu santri terbangun dari tidur. Ada yang bangun dengan sigap, ada pula yang masih bergelut dengan kantuk hingga harus dibangunkan berulang kali oleh teman-temannya. Momen itu menghadirkan kehangatan tersendiri. Mereka saling membangunkan dan mengingatkan agar tidak ada yang melewatkan sahur.
Di halaman pondok, aktivitas sahur mulai berlangsung. Beberapa santri tampak menyiapkan makanan, sementara yang lain duduk berkelompok menunggu hidangan siap disantap.
Baca: Dini Hari yang tak Lagi Sunyi
Sekitar pukul 03.37 WIB, kebersamaan itu terasa lengkap. Para santri menikmati santapan sahur sederhana, nasi hangat dan lauk seadanya, dengan rasa syukur yang mendalam.
Di tengah suasana tersebut, percakapan ringan mengalir. Tawa muncul di sela obrolan dan menciptakan keakraban yang sulit ditemukan di tempat lain. Pesantren menjadi ruang belajar sekaligus tempat tumbuhnya kebersamaan dan persaudaraan. Ramadan terasa lebih hidup karena dijalani bersama.
Gagasan unik pun muncul untuk mengadakan sahur di tengah lapangan. Tanpa banyak pertimbangan, semua menyepakati rencana itu. Obrolan semakin akrab, cerita saling bertukar, dan waktu sahur terasa singkat karena diisi kebersamaan. Di bawah langit malam yang masih gelap, mereka duduk melingkar dan menikmati momen tersebut.
Setelah sahur usai, suasana berangsur tenang. Sebagian santri bergegas mengambil air wudu untuk salat Subuh berjemaah. Sebagian lain berzikir dan membaca Al-Qur’an. Waktu setelah sahur terasa khusyuk, menghadirkan perpaduan antara kantuk dan ketenangan. Ramadan di pesantren mengajarkan ketekunan dalam ibadah, termasuk pada waktu-waktu yang lengang.
Hari-hari Ramadan berjalan dengan ritme yang khas. Setelah Subuh, sebagian santri mengaji, sementara yang lain beristirahat sejenak sebelum memulai aktivitas pagi. Meski tubuh terasa lelah karena kurang tidur, semangat tetap terjaga. Setiap waktu di bulan ini terasa lebih bermakna. Rasa lelah menjadi bagian dari proses beribadah yang dijalani dengan keikhlasan.
Baca: Kumandang Azan yang Dirindukan
Dalam perspektif Islam, sahur bukan sekadar aktivitas makan sebelum berpuasa. Sahur merupakan waktu yang sarat keutamaan. Allah Swt. berfirman:
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzāriyāt: 18)
Ayat ini menegaskan bahwa waktu sahur adalah momen istimewa untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Selain memenuhi kebutuhan jasmani, sahur juga menjadi waktu untuk memperbanyak istigfar. Hal ini diperkuat dengan sabda Rasulullah Saw.:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis lain disebutkan:
فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ
“Perbedaan antara puasa kita dengan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim).
Baca: Antara Kantuk dan Berkah Ngaji Pasaran
Sahur di tengah lapangan menjadi pengalaman yang berkesan. Rasa kenyang mungkin cepat hilang, tetapi kebersamaan, canda sederhana, serta doa yang dipanjatkan pada sepertiga malam tetap membekas dalam ingatan.
Dari kesederhanaan itu lahir kenangan yang sulit tergantikan. Tentang persaudaraan yang tulus, keberkahan yang terasa dalam keseharian, dan Ramadan yang dijalani bersama dalam kehidupan pesantren.