Kiai Marzuki Wahid Ajak Santri dan Mahasiswa Rajin Tulis Profil Ulama Perempuan

Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Ikhbar.com: Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina sekaligus Rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, KH Marzuki Wahid, mengajak santri dan mahasiswa aktif menulis profil ulama perempuan, terutama dari sisi pemikiran dan kontribusi intelektual.

Ajakan tersebut disampaikan dalam rangkaian Ngaji Pasanan Pemikiran Islam (NPPI) II bertema “Studi Pemikiran Sayyidah Nafisah”, di Kampus Transformatif ISIF Cirebon, Kamis, 26 Februari 2026.

“Kita ini sering kekurangan data tentang pemikiran ulama perempuan. Yang banyak tercatat justru amalan dan sisi spiritualnya, bukan gagasannya,” ujar Kiai Marzuki.

Kiai Marzuki menyinggung pengalaman Prof. Dr. KH Faqihuddin Abdul Kodir dalam serial NPPI II sebelumnya ketika membahas profil Sayyidah Sukainah binti Imam Husain (w. 736 M/117 H). Menurutnya, Kiai Faqih sempat mengakui kesulitan mencari rujukan yang memadai tentang warisan pemikiran tokoh perempuan tersebut.

“Ketika membedah Sayyidah Sukainah, ternyata referensinya sangat terbatas. Ini menunjukkan ada mata rantai sejarah yang tidak terdokumentasi dengan baik,” katanya.

Baca: Ngaji Pasanan ISIF: Sayyidah Nafisah dan Jejak Otoritas Keulamaan Perempuan

Kiai Marzuki Wahid (kanan) dalam acara Ngaji Pasanan Pemikiran Islam (NPPI) II di Kampus Transformatif Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, Kamis, 26 Februari 2026. Dok ISTKiai Marzuki mempertanyakan mengapa dalam banyak literatur klasik, tokoh-tokoh perempuan awal Islam seperti Sayyidah Sukainah dan Sayyidah Nafisah lebih sering ditampilkan dari sisi kezuhudan, kebiasaan ibadah, atau kemuliaan akhlak, sementara kontribusi intelektual tidak banyak tercatat.

“Padahal Imam Syafi’i saja banyak bertanya kepada Sayyidah Nafisah. Artinya ada kapasitas keilmuan yang diakui. Tetapi yang kita warisi justru cerita-cerita spiritualnya,” ujarnya.

Menurut Kiai Marzuki, kondisi tersebut berkaitan dengan tradisi penulisan sejarah yang lebih banyak mendokumentasikan otoritas laki-laki sebagai mujtahid mutlak atau pendiri mazhab. Sementara itu, perempuan, meskipun memiliki peran penting dalam transmisi ilmu dan pembentukan tradisi keagamaan, kerap luput dari pencatatan sistematis.

Karena itu, Kiai Marzuki mendorong generasi santri dan mahasiswa masa kini untuk mulai mengarsipkan dan menulis profil nyai pesantren atau ulama perempuan di lingkungan sekitar.

“Kalau hari ini kita tidak menulis, mungkin dua atau tiga abad lagi orang akan kesulitan melacak pemikiran para nyai yang sebenarnya sangat berpengaruh,” kata Kiai Marzuki.

Baca: Kiai Marzuki Wahid: Sunni-Syiah Itu Produk Modern

Kiai Marzuki menekankan bahwa penulisan tersebut tidak berhenti pada biografi singkat atau kisah keteladanan personal, melainkan menggali gagasan, pandangan fikih, tafsir, atau kontribusi sosial-keagamaan yang berkembang di lingkungan mereka.

“Dokumentasi pemikiran itu penting. Supaya warisan intelektualnya tidak hilang,” ujarnya.

Menurut Kiai Marzuki, upaya tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sejarah. Tradisi pesantren memiliki banyak figur perempuan yang berperan dalam pendidikan, pembentukan karakter santri, hingga pengambilan keputusan keagamaan di komunitasnya.

Kiai Marzuki berharap kampus dan pesantren dapat menjadi ruang lahirnya penulis muda yang tekun mendokumentasikan warisan tersebut.

“Menulis hari ini adalah investasi peradaban. Manfaatnya bisa dirasakan jauh di masa depan,” pungkasnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.