Ramadan sebagai Laboratorium Metabolik: Antara Spiritualitas dan Ilmu Gizi

“Ramadan itu bisa dijadikan ajang untuk mengelola emosi, ajang untuk introspeksi sebagai laboratorium tubuh ke arah yang lebih baik,” katanya.
Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Ikhbar.com: Puasa Ramadan kerap dibahas dari sisi pahala dan kedisiplinan ibadah. Padahal, pada saat yang sama tubuh menjalani proses biologis yang terukur dan sistematis. Selama sekitar 13 jam tanpa asupan, tubuh beralih dari pola konsumsi rutin ke pemanfaatan cadangan energi.

Dalam kerangka syariat, puasa bukan ritual simbolik. Ibadah ini memuat pembinaan diri yang menyeluruh.

Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Takwa mencakup pengendalian diri, termasuk dalam urusan konsumsi dan dorongan makan. Proses biologis saat berpuasa terhubung dengan nilai spiritual sebagai bagian dari latihan menuju ketakwaan.

Ahli gizi, Ustazah Yuswati, S.K.M., M.Kes., menjelaskan, bila dikelola dengan tepat, fase ini menjadi momen pembaruan metabolisme. Jika keliru, kondisi tersebut justru memicu penumpukan lemak baru. Pada konteks itulah Ramadan dapat dipahami sebagai laboratorium metabolik, ruang latihan yang mempertemukan disiplin spiritual dan sains nutrisi.

“Karena pada saat puasa itu tubuh kita modenya adalah mode santai. Artinya, kita menggunakan energi pada saat siang hari itu dari simpanan lemak,” ujar Ustazah Yuswati, dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar bertajuk “Seberapa Aman Menu Takjil Ramadan Kita?” di Ikhbar TV, dikutip pada Selasa, 24 Februari 2026.

Ahli Gizi, Ustazah Yuswati (kanan), saat menjadi narasumber dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar bertajuk “Seberapa Aman Menu Takjil Ramadan Kita?” di Ikhbar TV. Dok IKHBAR

Baca: Podcast Ramadan di Ikhbar TV kembali Hadir, Lebih Inspiratif dan Kontekstual!

Mode santai dan pembakaran cadangan energi

Menurut Wakil Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) KHAS Kempek Cirebon tersebut, ketika asupan dihentikan, tubuh beralih memanfaatkan glikogen dan lemak sebagai sumber energi. Mekanisme ini menguntungkan selama tidak dirusak oleh pola makan berlebihan saat berbuka.

Selama belasan jam, sistem pencernaan bekerja lebih ringan dibanding hari biasa. Tubuh memiliki kesempatan melakukan penyesuaian hormonal, termasuk penurunan kadar insulin.

“Berpuasa selama satu bulan Ramadan itu sebenarnya untuk mengistirahatkan sistem pencernaan,” katanya.

Gagasan memberi jeda pada tubuh sejalan dengan prinsip keseimbangan dan batas etis konsumsi dalam Islam.

Allah Swt berfirman:

وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A‘raf: 31)

Larangan isrāf  (berlebihan) bernilai moral sekaligus berdampak fisiologis. Ketika pola berbuka puasa melampaui kebutuhan, pembakaran cadangan energi yang berlangsung sepanjang hari terhenti dan bergeser menjadi penyimpanan lemak.

Nabi Muhammad Saw bersabda:

مَا مَلَأَ ٱبْنُ آدَمَ وِعَاءً شَرًّا مِنۢ بَطْنٍۢ، بِحَسْبِ ٱبْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌۭ يُقِمْنَ صُلْبَهُۥ، فَإِن كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌۭ لِطَعَامِهِۦ وَثُلُثٌۭ لِشَرَابِهِۦ وَثُلُثٌۭ لِنَفَسِهِۦ

“Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk napasnya.” (HR. Tirmidzi)

Prinsip pembagian tersebut mendukung stabilitas metabolik. Ruang bagi makanan, cairan, dan pernapasan berkaitan dengan keseimbangan energi dan fungsi organ dalam istilah kedokteran modern.

Dalam literatur nutrisi modern, pola ini dikenal sebagai intermittent fasting atau puasa berkala. Sejumlah penelitian menunjukkan puasa terkontrol dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu pengaturan berat badan.

“Namun, manfaat itu hanya muncul bila asupan setelah berbuka tidak melampaui kebutuhan,” terang Ustazah Yuswati.

Baca: Ikhbar.com Rilis Buku Panduan Ramadan Berbasis Keluarga dan Sosial

Disiplin gizi sebagai perpanjangan disiplin spiritual

Ustazah Yuswati menilai keberhasilan Ramadan tidak berhenti pada kemampuan menahan haus dan lapar. Pengendalian diri yang dilatih selama puasa perlu diterapkan dalam pengaturan porsi dan komposisi makanan.

Ia menekankan bahwa tubuh memiliki kebutuhan terukur, bukan mengikuti selera sesaat.

“Tubuh kita itu bukan butuh yang mewah. Tubuh kita itu butuhnya yang sesuai. Sesuai dengan kebutuhan, sesuai dengan porsinya,” ungkapnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan Nabi Muhammad Saw tentang dimensi puasa. Rasulullah Saw bersabda:

الصِّيَامُ نِصْفُ الصَّبْرِ

“Puasa adalah setengah dari kesabaran.” (HR. Tirmidzi)

Kesabaran mencakup kemampuan mengendalikan dorongan dasar, termasuk dorongan makan dan hasrat konsumsi. Tanpa pengaturan saat berbuka, latihan sepanjang hari kehilangan arah pembinaan diri.

Pengendalian asupan menjadi bagian dari praktik spiritual. Jika pada siang hari mampu menahan diri, maka pada malam hari sikap tersebut perlu dijaga. Kelebihan konsumsi menghapus manfaat metabolik yang telah diperoleh.

“Integrasi ini yang membuat Ramadan berbeda dari diet biasa. Ada dimensi kesadaran dan niat yang menopang perubahan perilaku,” katanya.

Baca: Kiai Ahmad Zaini Dahlan: Buku ‘Peta Jalan Ramadan’ Bekal Literasi selama Bulan Suci

Dampak jangka panjang

Ramadan berlangsung satu bulan penuh. Durasi tersebut cukup untuk membentuk kebiasaan baru. Jika selama 30 hari tubuh dibiasakan pada jeda makan dan asupan terkontrol, pola tersebut berpeluang berlanjut pada bulan berikutnya.

Dalam perspektif pembentukan karakter, Islam memandang latihan berulang sebagai sarana tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa.

Allah Swt berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)

Penyucian jiwa terwujud dalam kebiasaan konkret, termasuk pola konsumsi yang lebih terukur dan sadar.

Ustazah Yuswati melihat Ramadan sebagai eksperimen sadar terhadap tubuh.

“Ramadan itu bisa dijadikan ajang untuk mengelola emosi, ajang untuk introspeksi sebagai laboratorium tubuh ke arah yang lebih baik,” katanya.

Dengan pola makan seimbang saat berbuka dan sahur, manfaatnya tidak berhenti pada aspek spiritual.

“Tubuh menjadi lebih stabil, energi lebih terukur, dan kontrol diri meningkat,” pungkasnya.

Obrolan selengkapnya, bisa disimak di sini:

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.