Prof. Rokhmin Dorong Diversifikasi dan Pemanfaatan ‘Pangan Biru’, Apa Itu?

Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Ikhbar.com: Indonesia tidak bisa terus menggantungkan kedaulatan pangan pada beras. Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, MS, menegaskan perlunya diversifikasi konsumsi serta optimalisasi potensi blue food atau pangan biru sebagai pilar baru ekonomi nasional.

Dalam Webinar Nasional yang digelar Pusat Pengkajian Agraria & Sumber Daya Alam (PPASDA) bertajuk “Eksperimen Baru Tata Kelola Pangan”, Prof. Rokhmin menyampaikan bahwa ketergantungan pada beras membentuk struktur produksi yang timpang.

“Di samping beras, Indonesia memiliki banyak sekali jenis pangan lokal yang dapat dikembangkan,” tuturnya, Selasa, 17 Februari 2026.

Baca: Kritik Food Estate, Prof. Rokhmin: Terburu-buru, Minim Riset, dan Berisiko Ulangi Kegagalan

Istilah “pangan biru” merujuk pada bahan pangan yang berasal dari sumber daya perairan, baik laut maupun perairan darat. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi tangkapan lestari hingga 12 juta ton per tahun dari sekitar 8.500 biota laut. Potensi produksi perikanan budidaya laut bahkan diperkirakan melampaui 50 juta ton per tahun. Angka tersebut membuka peluang ekspor sekaligus memperkuat asupan gizi masyarakat.

“Pangan biru Indonesia berpotensi menghasilkan nilai pasar hingga Rp 6.812 triliun pada tahun 2030,” jelas Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001-2004 tersebut.

Menurut Prof. Rokhmin, langkah menuju penguatan pangan biru menjadi kian mendesak karena Indonesia tercatat sebagai negara dengan tingkat food wastage terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi, yakni sekitar 20 persen per tahun.

Baca: Prof. Rokhmin: Swasembada Pangan hanya Gunung Es, Akar Masalahnya Struktural

Dalam skema diversifikasi yang diajukan, Prof. Rokhmin mendorong pengurangan konsumsi beras secara bertahap dari rata-rata 110 kilogram per kapita menjadi 60 kilogram per kapita. Konsumsi dapat dialihkan ke sumber pangan lokal seperti sagu, jagung, sorgum, umbi-umbian, serta peningkatan asupan ikan dan hasil laut lainnya.

Namun, ia menekankan bahwa diversifikasi harus dibarengi hilirisasi industri pengolahan pangan. Tanpa pengolahan dan pengemasan yang memadai, produk lokal sulit bersaing di pasar global. Penguatan sistem logistik nasional juga diperlukan agar distribusi dari sentra produksi ke pasar berlangsung efisien dan terjangkau.

Prof. Rokhmin menilai penggabungan potensi pangan darat dan optimalisasi pangan biru di laut dapat memperkuat ketahanan gizi nasional sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam pasar pangan dunia.

“Keberhasilan ini menuntut kemauan politik yang kuat untuk mengubah orientasi pembangunan yang selama ini masih terlalu land-based development (berorientasi pada daratan),” pungkasnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.