Pemred Ikhbar.com: Ramadan Laboratorium Mental Remaja

Pemred Ikhbar.com, Ustaz Sofhal Adnan saat mengisi Targhib Ramadan di MA Al-Mubarokah, Karangmangu, Cirebon. Foto: IKHBAR/DOH

Ikhbar.com: Pemimpin Redaksi (Pemred) Ikhbar.com, Ustaz Sofhal Adnan menyebut bahwa Ramadan merupakan momentum pembentukan mental remaja yang paling efektif. Pasalnya, puasa dinilai mampu melatih pengendalian diri, kestabilan emosi, serta kesadaran spiritual secara menyeluruh.

Pernyataan tersebut disampaikan Ustaz Sofhal saat mengisi kegiatan Targhib Ramadan di Madrasah Aliyah (MA) Al-Mubarokah, Karangmangu, Cirebon, Jumat, 13 Februari 2026.

Dalam kesempatan itu, menegaskan bahwa masa remaja merupakan fase yang rentan terhadap gejolak emosi, kebutuhan pengakuan, serta mudah terdistraksi oleh lingkungan.

Menurutnya, kewajiban puasa yang disebutkan dalam Al-Qur’an bukan tanpa tujuan. Hal itu seperti yang ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 183.

“Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa puasa berfungsi melemahkan hawa nafsu dan mempersempit jalan setan. Sementara Tafsir Al-Qurthubi memaknai takwa sebagai penjagaan diri lahir dan batin,” ujar alumnus Pondok Pesantren Pasca Tahfiz Bayt Al-Qur’an Pusat Studi Al-Qur’an, Jakarta itu.

Baca: Tips Berburu dan Mengembangkan Ide Menulis ala Pemred Ikhbar.com

Ustaz Sofhal menjelaskan bahwa dari sisi ilmiah, usia remaja merupakan fase berkembangnya prefrontal cortex atau bagian otak pengambil keputusan, sehingga puasa menjadi latihan yang sangat relevan untuk membentuk karakter dan kedewasaan berpikir.

Ia juga mengingatkan bahwa kondisi lapar justru mengungkap karakter asli seseorang. Dalam kesempatan itu, Ustaz Sofhal mengutip hadis riwayat Imam Bukhari yang menyebut bahwa puasa adalah perisai.

Dalam Fathul Bari, lanjut dia, puasa dijelaskan sebagai pelindung dari dorongan nafsu dan ledakan emosi. Secara psikologis, ghrelin alias hormon lapar bisa memengaruhi suasana hati, sehingga Ramadan menjadi latihan untuk tetap santun meskipun kondisi biologis tidak nyaman.

Lebih lanjut, ia menyinggung pentingnya kemampuan menunda kenikmatan. Ustaz Sofhal mengaitkan hal tersebut dengan penelitian Marshmallow Test (1972) yang menunjukkan bahwa anak yang mampu menunda keinginan memiliki masa depan lebih stabil.

“Puasa selama satu bulan penuh melatih kemampuan tersebut. Ini selaras dengan QS. Al-Baqarah ayat 45,” ujar sosok yang juga menjabat sebagai mudir madrasah tahfiz Al-Qur’an Pondok Pesantren Ketitang, Cirebon itu.

Dalam pemaparannya, Ustaz Sofhal juga menyoroti dampak media digital terhadap mental remaja. Ia menjelaskan bahwa paparan media sosial, gim, dan konten cepat dapat meningkatkan dopamin berlebihan yang berdampak pada kegelisahan, kebosanan, dan menurunnya fokus belajar.

Ramadan, kata dia, menghadirkan pola hidup yang lebih terkendali melalui pembatasan makan, hiburan, serta peningkatan ibadah.

Ia mengutip QS. An-Nur ayat 30, yang dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan sebagai perintah menjaga pandangan untuk menjaga hati. Menurutnya, puasa bukan hanya menahan makan, tetapi juga mengendalikan konsumsi visual dan informasi.

Dari sisi kesehatan mental, Ustaz Sofhal memaparkan bahwa puasa berpengaruh terhadap ketenangan sistem saraf. Ia menjelaskan bahwa penelitian tentang fasting menunjukkan adanya penurunan kortisol atau hormon stres, peningkatan regulasi emosi, dan meningkatnya kemampuan refleksi diri.

“Hal ini selaras dengan QS. Ar-Ra’d: 28, yang dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa hati menjadi tenang dengan mengingat Allah,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya pengendalian emosi saat berpuasa. Ia mengutip hadis riwayat Bukhari, yang menjelaskan bahwa jika seseorang dicaci, hendaknya ia mengatakan dirinya sedang berpuasa. Menurutnya, puasa menjadi identitas kontrol diri yang melatih kemampuan menahan respons emosional.

Dalam pemaparannya, Ustaz Sofhal menegaskan bahwa Islam tidak pernah membebani manusia di luar kemampuannya. Ia mengutip QS. Al-Baqarah: 185, yang dalam Tafsir Al-Qurthubi dijelaskan sebagai bentuk kasih sayang Allah melalui keringanan bagi yang memiliki uzur.

Ia menambahkan bahwa secara psikologis, empati berkontribusi pada kebahagiaan jangka panjang dan kestabilan emosi remaja.

Ustaz Sofhal menutup pemaparannya dengan menegaskan bahwa Ramadan berperan dalam membentuk identitas diri remaja sebagai hamba Allah.

Ia mengatakan, keberhasilan Ramadan tidak hanya diukur dari ibadah yang dilakukan, tetapi dari perubahan mental yang dirasakan setelahnya, seperti kemampuan mengendalikan emosi, mengurangi kecemasan, meningkatkan fokus, serta membangun kesadaran diri.

“Kalau kita mampu menahan lapar berjam-jam, maka kita juga mampu menahan emosi, godaan, dan rasa malas dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ustaz Sofhal.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.