Ikhbar.com: Generasi Z kerap dicap pragmatis dan serbacepat. Direktur Eksekutif Sindikasi Pemilu dan Demokrasi (SPD), Erik Kurniawan, menilai anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
“Anak muda itu peduli terhadap lingkungannya, anak muda enggak suka korupsi,” ujarnya dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar di Ikhbar TV, Jumat, 13 Februari 2026.
Baca: Direktur SPD: Demokrasi Itu Justru Dimulai setelah Pemilu!
Erik menyebut partisipasi politik anak muda justru tinggi. Gen Z dan milenial mendominasi daftar pemilih pada Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024.
“Namun, ada tantangan serius, yaitu polarisasi dan perang informasi di media sosial,” katanya.
Peneliti Indonesian Parliamentary Center IPC itu membagikan lima kiat agar Gen Z tetap kritis tanpa terjebak polarisasi:

Baca: Pilkada Langsung atau DPRD? Ini yang Diinginkan Publik
- Fokus pada isu, bukan identitas
Erik menilai anak muda lebih tergerak oleh isu konkret seperti lingkungan, pekerjaan, dan kebebasan berekspresi. Fokus pada substansi menjaga diskusi tetap relevan dan tidak mudah bergeser menjadi dukungan personal.
- Hindari labelisasi
Stigma seperti “anak A” atau “kaum B” mempersempit ruang dialog. Ketika kritik langsung diberi cap, partisipasi publik melemah.
- Perkuat literasi informasi
“Perang informasinya luar biasa,” kata Erik.
Media sosial dipenuhi potongan kabar yang belum utuh. Verifikasi dan tabayun menjadi kunci agar tidak terseret arus informasi yang menyesatkan.
- Bangun kolaborasi lintas komunitas
Menurut Erik, anak muda lebih terbuka terhadap kerja bersama. Energi tersebut dapat diarahkan pada advokasi kebijakan, bukan berhenti pada perdebatan di ruang digital.
- Rawat tradisi kajian mendalam
Erik mengingatkan bahaya penyederhanaan berlebihan. Diskusi yang bertumpu pada kajian akan lebih kokoh dibanding respons spontan yang digerakkan emosi.
Gen Z, menurut Erik, tidak alergi terhadap politik. Mereka menolak polarisasi yang memaksa memilih kubu tanpa ruang kritik.
“Selama ruang dialog terbuka dan isu dibahas secara rasional, partisipasi akan tetap hidup,” pungkasnya.