Ikhbar.com: Peningkatan jumlah publikasi ilmiah dinilai belum memadai untuk menjawab tantangan pembangunan nasional. Penegasan tersebut disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, dalam Studium Generale (kuliah umum) di Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, Senin, 9 Februari 2026.
Prof. Rokhmin menjelaskan bahwa publikasi ilmiah Indonesia menunjukkan kenaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, capaian tersebut belum sejalan dengan pertumbuhan paten, proses hilirisasi riset, serta dampak ekonomi yang terukur.
“Publikasi penting, tetapi riset harus menghasilkan dampak nyata,” ujar Prof. Rokhmin.
Baca: Mengapa Riset Kampus Indonesia Banyak yang Gagal Masuk Pasar? Ini Penjelasan Prof. Rokhmin
Sektor kelautan dan perikanan dijadikan contoh konkret. Potensi ekonomi sektor tersebut diperkirakan melampaui Rp7.000 triliun per tahun. Namun, kontribusinya terhadap produk domestik bruto nasional masih berada pada kisaran satu digit persen.
“Kesenjangan tersebut menunjukkan hasil riset belum mampu mendorong nilai tambah secara optimal,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004 itu.
Menurut Prof. Rokhmin, orientasi riset yang terlalu menekankan capaian akademik menyebabkan banyak penelitian berhenti pada jurnal dan laporan. Kondisi tersebut membuat riset tidak terhubung dengan kebutuhan industri, dinamika pasar, serta agenda pembangunan ekonomi.

Baca: Prof. Rokhmin Dahuri: Kampus Harus Jadi Motor Pembangunan Negeri
Persoalan itu juga dikaitkan dengan nilai kekayaan sumber daya alam global yang mencapai sekitar 15 triliun dolar AS per tahun. Negara yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi akan memperoleh nilai tambah terbesar, sementara negara yang bergantung pada ekspor bahan mentah berisiko tertinggal.
“Perguruan tinggi perlu mengubah indikator keberhasilan riset. Ukuran keberhasilan tidak cukup ditentukan oleh jumlah publikasi, melainkan oleh kemampuan riset menghasilkan inovasi, teknologi terapan, dan manfaat ekonomi,” tutup Prof. Rokhmin.