Ikhbar.com: Bonus demografi Indonesia tidak otomatis menjadi keuntungan pembangunan. Tanpa kualitas sumber daya manusia (SDM) yang memadai, peluang tersebut berpotensi berubah menjadi beban.
Peringatan tersebut disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri dalam Studium Generale (kuliah umum) di Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, Senin, 9 Februari 2026.
Prof. Rokhmin menyebutkan jumlah penduduk Indonesia telah mencapai 285,7 juta jiwa dan menempati peringkat keempat terbesar di dunia. Komposisi penduduk didominasi usia produktif, yang menandai fase bonus demografi pada periode 2020–2040. Momentum ini hanya terjadi satu kali dalam sejarah pembangunan bangsa.
“Bonus demografi akan bernilai jika ditopang SDM unggul dan produktif,” ujar Prof. Rokhmin.
Baca: Prof. Rokhmin Dahuri: Kampus Harus Jadi Motor Pembangunan Negeri
Prof. Rokhmin menekankan bahwa bonus demografi tidak menjamin pertumbuhan ekonomi tanpa dukungan pendidikan bermutu, keterampilan relevan, serta inovasi berkelanjutan. Ketiadaan faktor tersebut berisiko meningkatkan pengangguran dan memicu persoalan sosial.
Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004 itu mengaitkan kualitas SDM dengan kapasitas bangsa mengelola sumber daya alam dan memanfaatkan posisi geoekonomi. Indonesia berada di jalur perdagangan dunia yang dilalui sekitar 45 persen arus perdagangan global. Keunggulan geografis tersebut tidak memberi manfaat optimal tanpa SDM yang mampu menciptakan nilai tambah.
Prof. Rokhmin juga menyinggung nilai ekonomi sumber daya alam global yang mencapai sekitar 15 triliun dolar AS per tahun. Negara yang berhasil memanfaatkan bonus demografi melalui pendidikan dan inovasi berpeluang menjadi pemain kunci dalam rantai nilai global.
Baca: Prof. Rokhmin: Tanpa Kedaulatan Pangan, Indonesia Sulit Maju
Menurut Prof. Rokhmin, perguruan tinggi memegang peran sentral dalam menentukan arah pemanfaatan bonus demografi. Kampus berfungsi sebagai pusat pembentukan SDM unggul yang adaptif terhadap perubahan ekonomi dan teknologi.
Kegagalan perguruan tinggi menyiapkan SDM berkualitas, lanjut Prof. Rokhmin, berdampak langsung pada kegagalan Indonesia memanfaatkan momentum demografi.
“Tanpa SDM unggul, bonus demografi bisa berubah menjadi beban pembangunan,” kata Prof. Rokhmin.