Cara Terhindar dari Hoaks Informasi Haid di Medsos

Ilustrasi haid. Foto: Freepik

Ikhbar.com: Literasi media menjadi kunci utama agar perempuan tidak terjebak hoaks informasi haid di media sosial (medsos). Isu tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Risalatul Mahid dalam Perspektif Medis yang digelar di Pondok Pesantren Gedongan, Cirebon, dalam rangka Haul Ke-95 KH Muhammad Sa’id pada Ahad, 1 Februari 2025.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Cirebon, Mamat Rahmat, mengingatkan bahwa isu kesehatan perempuan kerap menjadi sasaran disinformasi, mulai dari mitos haid hingga klaim medis yang tidak memiliki dasar ilmiah dan mudah menyebar melalui medsos.

Baca: Kapan Usia Ideal Perempuan mulai Haid? Ini Penjelasan Medisnya

“Perempuan dan santri harus dibekali kemampuan literasi media agar tidak mudah percaya pada informasi yang menyesatkan, apalagi yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi,” ujarnya.

Ketua PWI Kabupaten Cirebon, Mamat Rahmat (kanan) saat memberikan materi pada Seminar Nasional Haul Ke-95 KH Muhammad Said Gedongan. Foto: IST

Menurut Mamat, literasi media tidak berhenti pada kemampuan membaca atau menerima informasi. Masyarakat juga perlu memahami cara mengenali sumber, memverifikasi narasumber, serta membedakan media arus utama dengan konten media sosial yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Ia menegaskan, informasi kesehatan perempuan, termasuk persoalan haid, seharusnya bersumber dari tenaga medis, akademisi, maupun ulama yang kompeten di bidangnya. Kekeliruan memahami informasi dapat berdampak pada pengambilan keputusan yang salah, baik secara medis maupun keagamaan.

Mamat menambahkan, kolaborasi antara pesantren, tenaga medis, dan insan pers menjadi langkah strategis dalam menghadirkan edukasi yang berimbang di tengah derasnya arus informasi digital.

“Jika literasi media kuat, maka perempuan tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga cerdas dalam menyerap informasi dan terlindungi dari hoaks,” pungkasnya.

Seminar nasional tersebut menghadirkan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Barat, KH Nanang Umar Faruq, serta dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, dr. Yuli Tri Setiono. Keduanya membahas persoalan haid dari perspektif fikih dan medis secara komprehensif.

Diskusi dipandu Ketua Komisi Informasi Daerah Kabupaten Cirebon, Gus Muhammad Idrus, dan diikuti ratusan santri Pesantren Gedongan. Forum tersebut menjadi ruang dialog lintas disiplin untuk memperkuat pemahaman kesehatan perempuan di lingkungan pesantren.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.