Ikhbar.com: Perkembangan teknologi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri. Artificial Intelligence (AI), otomatisasi, dan algoritma bukan lagi isu masa depan, tetapi telah menjelma sebagai realitas yang turut membentuk cara berpikir, proses belajar, serta pengambilan keputusan.
Di tengah fakta tersebut, konsultan sekaligus pengamat isu kepemudaan, Wildanshah, mengajak publik meninjau ulang posisi santri dalam lanskap AI. Santri kerap ditempatkan sebagai kelompok yang tertinggal dalam penguasaan teknologi. Padahal, pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
“Karena persoalan utama hari ini bukan siapa yang paling canggih secara teknologi, melainkan siapa yang paling siap secara nilai dan etika,” kata Wildan, sapaan akrabnya, dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar bertajuk “Anak Muda dan Santri di Era AI” di Ikhbar TV, dikutip pada Senin, 2 Februari 2026.
Baca: Bukan Gagap Teknologi, Ini Nilai Jual Pesantren yang Penting Diadaptasi
Teknologi melaju, nilai tertinggal
Inisiator Perkumpulan WargaMuda itu menilai terdapat kesalahpahaman dalam cara publik membaca perkembangan AI. Banyak pihak mengira persaingan masa depan ditentukan oleh kecanggihan perangkat serta kecepatan adaptasi teknologi. Diskursus global, menurut Wildan, justru bergerak pada arah yang berbeda.
“Hari ini semua orang mengira kita berlomba-lomba soal teknologi. Padahal yang lagi diperbincangkan bagi inovator-inovator dunia itu bukan teknologinya, tapi etika,” ungkap Wildan.
AI, menurut Wildan, bekerja melalui algoritma yang membawa nilai tertentu. Persoalannya, nilai tersebut tidak selalu sejalan dengan norma sosial, hukum, serta budaya masyarakat Indonesia. Ketika algoritma global diterapkan tanpa koreksi, dampaknya tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi merambah wilayah ideologis.
“Algoritma itu bagaimanapun dia harus menjawab dengan value (nilai). Nah, sekarang pertanyaannya algoritma ini yang mulai menjerat seluruh Indonesia ini pakai value-nya siapa?” ujarnya.
Pada konteks tersebut, Dewan Pakar Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) itu melihat posisi santri bersifat strategis. Bukan karena kemampuan teknis, tetapi karena tradisi berpikir etis dan kehati-hatian dalam mengambil keputusan.

Baca: Iman adalah Kecerdasan Tertinggi di Era AI
Pesantren dan tradisi berpikir kontekstual
Berbeda dari pendekatan instan yang serba hitam putih, pesantren membiasakan santri memahami konteks secara utuh. Wildan mencontohkan cara pesantren merespons persoalan fikih yang tidak tunggal dan tidak sederhana.
Di lingkungan pesantren, misalnya, penentuan status halal atau haram suatu perkara tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Keputusan tersebut dapat berubah karena faktor tertentu dan harus ditimbang melalui konteks menyeluruh.
Babi atau bangkai yang pada kondisi normal dihukumi haram, dapat menjadi boleh dikonsumsi dalam keadaan darurat demi mempertahankan hidup di tengah hutan dan kondisi sejenis. Pola berpikir semacam ini, menurut Wildan, relevan di tengah derasnya arus informasi serta jawaban instan yang ditawarkan AI.
“Teknologi cenderung memberi satu jawaban final, sementara realitas sosial menuntut kebijaksanaan,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa generasi hari ini kerap menerima informasi tanpa proses seleksi yang memadai. Pada bagian ini, peran santri dibutuhkan sebagai penjaga nilai, bukan sekadar pengguna teknologi.
“Coba yuk kita cek fikih-fikih ini di ChatGPT, apakah sudah sesuai dengan value yang kita inginkan atau sebenarnya kita mengadap value-value yang tidak kita inginkan,” ucapnya.
Baca: 5 Jenis Respons Manusia terhadap AI, Mana yang Lebih Baik?
Keberanian dan kebijaksanaan
Dalam perubahan tersebut, Wildan menegaskan santri tidak perlu merasa minder menghadapi dunia digital. Keterbatasan teknis dapat dipelajari, sementara fondasi nilai memerlukan proses panjang.
“Perdebatan ke depan itu bukan teknologi canggih-canggihan, tapi penjelasan dan nilai yang mendalam atau filsafat. Dan ini menurutku orang pesantren akan laku banget,” katanya.
Ia menilai pendidikan pesantren yang panjang, detail, dan disiplin menjadi modal penting dalam menghadapi era AI. Santri dibiasakan tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan serta terlatih menguji argumen secara kritis.
Menurut Wildan, ketika pengetahuan dapat diakses oleh siapa pun, wisdom (kebijaksanaan) menjadi pembeda utama.
“Di era digital itu pengetahuan jadi nomor dua. Nomor satunya adalah wisdom,” ucapnya.
Pandangan tersebut menempatkan santri sebagai bagian penting dalam arus perubahan dan perdebatan masa depan.
“Tantangannya tinggal bagaimana keberanian untuk masuk ke ruang publik, berdialog, dan menawarkan nilai secara aktif,” pungkasnya.