Ikhbar.com: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Khatmil Qur’an dan Istighosah dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Ke-103 Nahdlatul Ulama pada Senin, 5 Januari 2026 atau bertepatan dengan 16 Rajab 1447 H.
Kegiatan ini menjadi momentum refleksi spiritual sekaligus peneguhan komitmen NU dalam mengawal perjalanan Indonesia menuju peradaban yang mulia.
Acara yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri jajaran pengurus PBNU, para kiai, santri, serta warga Nahdliyin dari berbagai daerah. Doa bersama dipanjatkan sebagai ikhtiar batin agar NU senantiasa diberi kekuatan dalam menjaga nilai Ahlussunnah wal Jamaah, merawat keutuhan bangsa, serta menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Dalam tausiyahnya, Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, mengungkapkan kesan mendalam atas rangkaian napak tilas perjalanan isyarah para pendiri NU yang baru saja ia saksikan.
Perjalanan tersebut menelusuri kembali jejak Kiai As’ad Syamsul Arifin saat membawa tongkat dan tasbih sebagai pesan isyarah dari Syekhona KH Muhammad Kholil bin Abdul Latif Bangkalan untuk disampaikan kepada Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang.
Baca: Rais Aam dan Gus Yahya Islah, Bagaimana Status Pj Ketum PBNU KH Zulfa Mustofa?
“Saya kemarin melepas dimulainya napak tilas perjalanan isyarah dan taqsis NU. Perjalanan itu dimulai dari Bangkalan sejak 06.00 WIB dan baru tiba di Jombang sekitar 19.00 WIB dengan berjalan kaki, naik perahu, lalu dilanjutkan kereta,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa rombongan napak tilas tersebut dipimpin oleh KH Azaim Ibrahimi dan berakhir dengan penyerahan tongkat serta tasbih kepada dzurriyah Hadratussyekh yang diwakili oleh Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz.
Lebih lanjut, Ketua Umum PBNU menuturkan bahwa isyarah para pendiri NU selalu berkelindan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi kompas khidmah jam’iyyah hingga hari ini. Ayat-ayat tersebut, menurutnya, perlu terus diresapi dan dijadikan pegangan dalam menghadapi dinamika zaman.
“Kita tidak perlu gentar di tengah berbagai tantangan dan rintangan. Sudah menjadi kenyataan bahwa selalu ada pihak yang ingin memadamkan cahaya Allah,” tuturnya, seraya mengutip ayat yurîdûna liyuthfi’û nûrallâhi bi-afwâhihim, wallâhu mutimmu nûrihî walau karihal kâfirûn.
Menurutnya, keyakinan bahwa Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya menjadi sumber optimisme NU dalam menjaga khidmah keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Ketua Umum PBNU juga memaknai tongkat barokah NU sebagai simbol harapan akan lahirnya sumber-sumber kemaslahatan, baik pada masa kini maupun masa mendatang. Ia mengaitkannya dengan kisah Nabi Musa dalam Al-Qur’an, ketika tongkat menjadi sarana keluarnya mata air bagi kaumnya.
Ia menegaskan bahwa NU berharap tongkat barokah tersebut kelak menjadi metafora ikhtiar kolektif jam’iyyah dalam menghadirkan kesejahteraan, keadilan sosial, dan keberkahan bagi seluruh umat manusia.
“Kita memohon kepada Allah Swt, semoga tiba waktunya tongkat barakah NU ini memancarkan sumber-sumber kemaslahatan dan rezeki bagi jam’iyyah, bangsa, dan kemanusiaan,” pungkasnya.