Korban Tewas Banjir Sumatera Capai 811 Orang, 623 Hilang

Foto udara kondisi pascabanjir bandang melalui Helikopter Caracal Skadron Udara 8 Lanud Atang Sendjaja di daerah terisolir akibat bencana di Nagari Tiku V Jorong, Agam, Sumatera Barat, Senin (1/12/2025). Foto: NTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Ikhbar.com: Jumlah korban meninggal akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera terus meningkat. Data terbaru menunjukkan angka kematian telah mencapai 811 orang, sementara 623 korban masih dinyatakan hilang.

Angka tersebut berdasarkan data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Dashboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor pada Rabu, 3 Desember 2025 pukul 15.33 WIB.

Selain korban tewas, tercatat pula sekitar 2.600 lebih warga mengalami luka-luka akibat ganasnya banjir bandang serta longsor yang menyapu permukiman dan fasilitas umum.

Daerah dengan angka kematian tertinggi berada di Kabupaten Agam, tercatat 143 korban jiwa, kemudian Aceh Utara dengan 112 orang meninggal, disusul Tapanuli Tengah 86 korban, serta Tapanuli Selatan 79 korban.

Baca: Innalillahi, Jumlah Korban Tewas Banjir Sumatera sudah Capai 604 Orang

BNPB menekankan bahwa proses pencarian masih berlangsung seiring laporan warga yang belum ditemukan.

Bencana ini berdampak luas pada masyarakat. Sekitar 3,2 juta penduduk di 49 kabupaten/kota terdampak langsung oleh banjir dan longsor tersebut.

Di Aceh, jumlah warga terdampak mencapai sekitar 1,4 juta jiwa, Sumatra Utara 1,7 juta jiwa, dan Sumatra Barat sekitar 140.500 warga. Gelombang pengungsian pun tak terhindarkan.

Lebih dari 1,5 juta warga di Aceh terpaksa meninggalkan rumah, 538.800 lebih di Sumatra Utara, serta sekitar 106.200 pengungsi di Sumatra Barat.

Kerusakan infrastruktur juga sangat serius. BNPB mencatat sekitar 3.600 rumah rusak berat, 2.100 rumah mengalami kerusakan sedang, dan lebih dari 4.900 unit mengalami rusak ringan.

Selain pemukiman, fasilitas pendidikan, rumah ibadah, serta sejumlah jembatan rusak parah hingga tidak dapat digunakan.

Upaya penanganan darurat terus dilakukan pemerintah bersama relawan. Fokus saat ini diarahkan pada pencarian korban hilang, pemulihan akses transportasi, penyediaan kebutuhan logistik pengungsi, serta pendataan kerusakan untuk proses rehabilitasi jangka panjang.

Pemerintah mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana susulan dan mengikuti instruksi tim lapangan.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.