Kumandang Azan yang Dirindukan

Saat suara azan Maghrib menggema dari berbagai arah, suasana segera berubah.
Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Oleh: Hafizhah Nur A
(Santri Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon asal Indramayu, Jawa Barat)

Hafizhah Nur A. IKHBAR/FSJ

BULAN Ramadan selalu menghadirkan suasana berbeda, terutama bagi para santri yang menjalani hari-harinya di pesantren. Di balik kesederhanaan asrama yang jauh dari hiruk-pikuk kota, bulan suci terasa lebih dari kewajiban berpuasa. Ramadan menjadi ruang latihan bagi para santri untuk menahan lapar dan dahaga, menguatkan niat, sekaligus mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Sejak fajar menyingsing, kehidupan pesantren telah bergerak dalam ritme ibadah. Para santri bangun lebih awal untuk sahur bersama. Hidangan sederhana berupa nasi secukupnya dengan lauk seadanya tidak mengurangi makna kebersamaan. Justru dari hidangan yang seadanya itulah tumbuh rasa akrab. Setiap suapan terasa lebih berarti karena dinikmati bersama dalam keadaan yang sama-sama menahan kantuk.

Baca: Antara Kantuk dan Berkah Ngaji Pasaran

Usai santap sahur, para santri bergegas menuju tajug atau musala untuk melaksanakan Salat Subuh berjemaah. Setelah itu, mereka melanjutkan kegiatan dengan mengaji Al-Qur’an dan kitab kuning. Rutinitas tersebut menegaskan bahwa Ramadan tidak berhenti pada menahan makan dan minum. Bulan ini juga menjadi waktu untuk memperkuat hubungan dengan ilmu dan ibadah.

Memasuki waktu duha, santri kelas satu dan dua wustha melaksanakan Salat Duha bersama-sama. Sementara itu, santri kelas tiga hingga mustahiq mengikuti pengajian kitab Tafsir Jalalain bersama KH. Ahmad Zaeni Dahlan, Pembina Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur, Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon. Dari serambi pengajian, suara kiai yang biasa kami sapa Ayah Ahmad, menjelaskan makna ayat demi ayat menjadi penuntun bagi para santri dalam memahami kandungan Al-Qur’an.

Baca: Nasihat Sabar dari ‘Ayah’ dan ‘Bunda’

Ketika waktu zuhur tiba dan matahari mulai terasa terik, tubuh perlahan lelah dan rasa kantuk sering datang. Meski demikian, para santri tetap membuka kitab dan menelaah baris demi baris penjelasan. Kitab yang penuh catatan tinta, bahkan kadang dengan lembaran yang menipis, menjadi saksi kesungguhan mereka dalam menuntut ilmu.

Rasulullah Muhammad Saw bersabda:

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ

“Sesungguhnya ilmu hanya diperoleh dengan belajar, dan kesabaran diperoleh dengan melatih diri.” (HR. Bukhari)

Hadis tersebut tercermin dalam keseharian para santri. Upaya memahami pelajaran, menahan kantuk saat belajar, hingga menjaga sikap selama berpuasa menjadi bagian dari latihan kesabaran yang nyata.

Menjelang sore hari, suasana pesantren biasanya terasa sedikit melambat. Sebagian santri memanfaatkan waktu dengan membaca Al-Qur’an di serambi asrama. Ada yang mengulang hafalan, ada pula yang beristirahat sejenak. Pada waktu seperti ini, rasa lapar mulai terasa lebih kuat dan menjadi pengingat bahwa waktu berbuka semakin dekat.

Ketika senja mulai turun, kehidupan pesantren kembali ramai. Halaman asrama dipenuhi aktivitas para santri. Ada yang menyiapkan hidangan berbuka, membuat takjil sederhana, atau menata gelas air minum di atas nampan. Sebagian santri tetap membaca Al-Qur’an sambil menunggu saat yang dinanti.

Bagi para santri, menunggu azan Maghrib di bulan Ramadan memiliki kesan tersendiri. Waktu terasa berjalan begitu perlahan.

Rasa lapar dan haus yang sejak pagi ditahan seolah mencapai puncaknya pada satu detik yang sangat ditunggu, yaitu ketika muazin mulai mengumandangkan azan magrib, sebagai penanda waktu berbuka telah tiba.

Baca: Hidangan ‘Seribu’ Tangan

Saat suara azan Maghrib menggema dari berbagai arah, suasana segera berubah. Wajah-wajah yang sebelumnya tampak letih menjadi cerah. Kumandang azan itu membawa kabar gembira, tanda bahwa perjuangan menahan diri sepanjang hari telah berakhir.

Hidangan berbuka para santri sering kali sederhana. Terkadang hanya segelas air putih, kurma, atau gorengan. Namun, dalam kebersamaan itu, semuanya terasa cukup. Tawa ringan, ucapan syukur, dan doa berbuka menjadikan momen tersebut terasa hangat.

Dari hari ke hari, pengalaman sederhana tersebut perlahan menjadi kenangan yang kuat. Menanti azan Maghrib, berbuka bersama, lalu kembali mengaji pada malam Ramadan membentuk rangkaian pengalaman yang menanamkan kesederhanaan, kesabaran, serta kecintaan pada ilmu dan ibadah.

Karena itu, kenangan Ramadan di pesantren, terutama saat menunggu kumandang azan Maghrib, sering tetap melekat dalam ingatan para santri, bahkan lama setelah mereka meninggalkan lingkungan penuh berkah ini.

Artikel ini merupakan karya peserta “Kelas Menulis Ramadan di Pesantren”, program literasi hasil kerja sama Ikhbar.com dan Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon. Melalui kelas ini, para santri menuliskan kisah dan pengalaman Ramadan mereka di pesantren. Serial “Ramadan di Pesantren” terbit secara berkala sepanjang bulan Ramadan 1447 H/2026 M.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.