Oleh: Aisy Fikriyatul Fathonah
(Santri Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon asal Majalengka)

RAMADAN di pesantren selalu menghadirkan suasana berbeda. Jauh sebelum waktu subuh, para santri telah bangun dari waktu istirahat yang singkat untuk menyiapkan dan menyantap sahur bersama, lantas bergegas menuju musala untuk salat berjemaah.
Dari jendela asrama yang setengah terbuka, udara dini hari masuk perlahan. Lampu-lampu halaman masih menyala, sementara langit mulai berubah warna. Sambil menunggu azan, para santri mendaras Al-Qur’an.
Baca: Hidangan ‘Seribu’ Tangan
Dari jendela asrama itulah fajar puasa kerap disaksikan secara sederhana, tetapi meninggalkan kesan yang kuat.
Subuh merupakan waktu yang tenang dan sarat makna. Pada saat itu, hati terasa lebih dekat kepada langit ketika aktivitas dunia belum ramai dan para santri belum disibukkan oleh kegiatan harian. Udara yang berembus masuk dari jendela asrama menghadirkan kesejukan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Dari jendela asrama, fajar di bulan puasa tampak seperti lukisan yang perlahan terbentang di langit. Cahaya tipis muncul dari ufuk timur sebagai tanda berakhirnya waktu sahur dan dimulainya puasa hari itu. Bagi para santri, peristiwa sederhana seperti ini sering meninggalkan kesan mendalam.
Apalagi, keutamaan waktu subuh juga ditegaskan dalam QS. Al-Isra: 78.
Allah Swt berfirman:
اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰنَ الْفَجْرِۗ اِنَّ قُرْاٰنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا
“Dirikanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula Salat Subuh). Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”
Baca: Serunya Ramadan di Pesantren, Cerita Santri KHAS Kempek Cirebon Asal Sulteng
Ayat tersebut menunjukkan kedudukan istimewa waktu subuh. Bacaan Al-Qur’an pada waktu ini disaksikan oleh para malaikat. Dari ayat ini, umat Muslim dapat mengambil beberapa pelajaran penting.
Pertama, memulai hari dengan ibadah membawa keberkahan dalam kehidupan. Kedua, waktu subuh sangat baik untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. melalui salat dan membaca Al-Qur’an. Ketiga, suasana subuh memberi kesempatan bagi manusia untuk merenungi ayat-ayat Allah dengan hati yang lebih lapang.
Bagi para santri, bulan puasa mengajarkan bahwa subuh tidak sekadar menandai pergantian malam menuju pagi. Waktu ini menjadi sarana belajar tentang kesabaran, kedisiplinan, dan keikhlasan. Bangun untuk sahur, menahan kantuk saat membaca Al-Qur’an, serta melangkah menuju masjid pada dini hari menjadi latihan kecil untuk menundukkan diri di hadapan Allah Swt.
Fajar puasa juga menghadirkan pelajaran penting. Pemandangan pagi tersebut mengingatkan seorang santri untuk menata niat dan memulai hari dengan doa.
Baca: Kiai Ahmad: Ramadan Momentum Terbaik untuk Melatih Keikhlasan
Dari balik jendela kayu sederhana itu, hari baru dimulai dengan harapan.
Semoga setiap fajar di bulan puasa menghadirkan keberkahan. Dari suasana dini hari itu sering tumbuh kekuatan dalam diri seorang santri, yaitu semangat untuk terus belajar, beribadah, dan melangkah lebih dekat kepada Allah Swt.