Ikhtisar Ramadan Menag Nasaruddin Umar

Menteri Agama (Menag) RI, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, saat memberikan sambutan sekaligus ceramah Salat Tarawih Keliling (STARLING) Bimas Islam Kementerian Agama yang digelar di Jakarta, Rabu (11/3/2026). Dok KEMENAG

Ikhbar.com: Ramadan selalu memunculkan pertanyaan yang berulang setiap tahun. Apa yang benar-benar berubah setelah sebulan berpuasa? Banyak orang menyambut Ramadan dengan semangat ibadah yang tinggi. Namun, jejak perubahan yang bertahan setelah bulan itu berlalu tidak selalu mudah terlihat.

Dari mimbar masjid hingga forum kenegaraan, Ramadan kerap dikenang sebagai masa peningkatan ibadah. Padahal bulan ini juga dimaksudkan sebagai latihan panjang untuk memperbaiki cara hidup manusia, bekerja, serta memperlakukan sesama.

Pandangan tersebut menjadi salah satu garis besar pesan yang berulang kali disampaikan Menteri Agama (Menag) RI, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, dalam berbagai kesempatan sepanjang Ramadan tahun ini. Dalam ceramah, kuliah subuh, hingga forum resmi kementerian, Prof. Nasar, sapaan karibnya, memandang Ramadan sebagai ruang pembentukan karakter manusia. Iman diuji, kepekaan sosial dipertajam, dan tanggung jawab publik ditempatkan dalam kerangka moral yang lebih luas.

Baca: Menag: Ramadan Momentum Memperkuat Kesalehan Sosial

Ramadan sebagai madrasah

Dalam sebuah tausiyah di Jakarta pada awal Ramadan, Ahad (22/2/2026), Prof. Nasar menyebut bulan puasa sebagai madrasah kehidupan. Istilah tersebut menggambarkan proses pendidikan rohani yang berlangsung sepanjang Ramadan.

“Ramadan adalah madrasah kehidupan. Di dalamnya kita dilatih sabar, disiplin, dan peduli,” kata Prof. Nasar.

Bagi Prof. Nasar, puasa menghadirkan latihan yang menyentuh banyak dimensi kepribadian manusia. Menahan lapar dan dahaga merupakan lapisan terluar. Di baliknya terdapat pembelajaran tentang kesabaran, kemampuan mengendalikan keinginan, serta kesadaran bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai kehendak pribadi.

Nilai-nilai tersebut, menurutnya, relevan bagi kehidupan modern yang bergerak cepat dan penuh tekanan. Tanpa pengendalian diri, seseorang mudah terseret dalam kompetisi yang keras atau kepentingan pribadi yang sempit. Ramadan memberi kesempatan untuk menata kembali keseimbangan hidup.

Prof. Nasar juga menyinggung pentingnya merenungkan berbagai nikmat yang dimiliki manusia. Ilmu, jabatan, dan kekayaan dipandang sebagai amanah yang membawa konsekuensi moral. Setiap nikmat menuntut tanggung jawab untuk memberi manfaat yang lebih luas.

Dalam pandangan tersebut, Ramadan berfungsi sebagai ruang evaluasi diri. Puasa tidak berhenti sebagai ritual tahunan. Ramadan menjadi waktu untuk menilai kembali bagaimana seseorang menggunakan potensi yang dimilikinya dalam kehidupan sehari-hari.

Baca: Prof. Nasar: Jangan cuma Pandai Orasi, Dai Harus Bisa Jadi Teladan

Syukur yang terwujud dalam kepedulian

Tema lain yang menonjol dalam berbagai ceramah Prof. Nasar selama Ramadan adalah makna syukur. Dalam sebuah tausiyah tarawih di Masjid Agung Al Azhar Jakarta, sehari sebelumnya, Sabtu (21/2/2026), ia menekankan bahwa syukur memiliki dimensi sosial yang kuat.

“Tanda kita bersyukur itu terwujud dalam aksi untuk berbagi dengan sesama,” ujar Prof. Nasar di hadapan jemaah.

Pandangan tersebut menempatkan syukur sebagai sikap aktif. Orang yang bersyukur tidak berhenti pada rasa nikmat secara pribadi, tetapi mengubahnya menjadi manfaat bagi orang lain. Rezeki, dalam pengertian ini, menjadi sarana untuk memperluas kebaikan.

Pesan yang sama kembali muncul ketika Prof. Nasar memberikan kuliah subuh di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada awal Maret. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak umat Islam mengevaluasi kualitas iman selama menjalani Ramadan.

Keimanan, menurutnya, memiliki tingkatan yang terus berkembang. Ramadan memberi ruang bagi setiap orang untuk menilai kembali posisi spiritual sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Dalam penjelasannya, Prof. Nasar juga menyinggung cara menghadapi berbagai ujian kehidupan. Ia mengingatkan bahwa rasa syukur tidak selalu lahir dari keadaan yang menyenangkan. Dalam kondisi sulit sekalipun, seorang Muslim diajak melihat kehidupan melalui perspektif keimanan.

Pandangan tersebut menempatkan Ramadan sebagai sarana pembentukan masyarakat yang lebih empatik. Spirit ibadah tidak berhenti pada hubungan vertikal dengan Tuhan. Spirit itu juga mendorong tumbuhnya kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Baca: Tarawih di Masjid IKN, Menag Paparkan Program Ramadan Lintas Negara

Profesionalitas sebagai etika keimanan

Selain berbicara tentang pembinaan spiritual, Prof. Nasar juga menautkan pesan Ramadan dengan tanggung jawab publik. Hal tersebut terlihat dalam arahannya kepada jajaran Kementerian Agama (Kemenag) dalam sebuah rapat pimpinan di Jakarta.

Dalam forum tersebut, ia mengingatkan bahwa Ramadan harus menjadi momentum untuk memperkuat pelayanan keagamaan kepada masyarakat. Aparatur negara memikul tanggung jawab untuk memastikan program kementerian berjalan secara profesional dan memberi dampak nyata.

Program tematik seperti Joyful Ramadan Mubarak yang diluncurkan Direktorat Jenderal Bimas Islam menjadi salah satu upaya menghadirkan syiar Ramadan secara lebih luas. Program tersebut mencakup berbagai kegiatan, antara lain gerakan Masjid Ramah Pemudik serta sejumlah kegiatan sosial bagi masyarakat.

Di tengah berbagai dinamika publik, Prof. Nasar juga menekankan pentingnya menjaga integritas dalam bekerja. Dalam sebuah ceramah tarawih keliling di Jakarta pada pertengahan Ramadan, ia mengingatkan bahwa profesionalitas merupakan bagian dari tawakal.

“Lakukan apa yang kita yakini benar. Jika itu dilakukan dengan niat yang lurus dan cara yang baik, jangan takut,” kata Prof. Nasar.

Menurutnya, seseorang tidak perlu terlalu terpengaruh oleh berbagai komentar atau penilaian di ruang publik. Hal yang lebih penting adalah memastikan setiap keputusan diambil secara matang dan dijalankan dengan tanggung jawab penuh.

Baca: Menag Minta Penceramah Sajikan Kultum Ramadan dengan Singkat dan Padat

Al-Qur’an inspirasi kehidupan 

Gagasan lain yang disampaikan Prof. Nasar berkaitan dengan peran Al-Qur’an dalam kehidupan publik. Hal tersebut disampaikan dalam peringatan Nuzulul Qur’an tingkat kenegaraan di Istana Negara pada pertengahan Ramadan.

Dalam forum tersebut, Prof. Nasar mengingatkan bahwa Al-Qur’an hadir sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia secara luas, termasuk kehidupan berbangsa.

“Peringatan Nuzulul Qur’an harus menjadi sumber inspirasi untuk merawat persatuan bangsa dan menghadirkan kehidupan yang damai,” ujarnya.

Ia menilai nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an, seperti keadilan, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial, memiliki relevansi kuat bagi masyarakat modern. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi landasan etika dalam kehidupan bersama.

Prof. Nasar juga mengingatkan pentingnya mendoakan para pemimpin. Dalam pandangannya, kualitas kepemimpinan memiliki pengaruh besar terhadap kesejahteraan masyarakat.

Rangkaian pesan tersebut membentuk satu garis pemikiran yang utuh. Ramadan, dalam perspektif Prof. Nasar, merupakan momentum pembinaan manusia secara menyeluruh. Ramadan menguatkan iman, memperdalam kepedulian sosial, meneguhkan integritas dalam bekerja, serta menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan bersama.

Dengan cara pandang tersebut, Ramadan tidak berhenti sebagai bulan ibadah tahunan. Ramadan menjadi ruang pendidikan yang terus berulang, tempat manusia belajar memperbaiki diri dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan yang lebih luas.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.