Ikhbar.com: Pemimpin Redaksi (Pemred) Ikhbar.com, Ustaz Sofhal Adnan menyebut bahwa kehidupan pesantren menyimpan banyak cerita yang layak ditulis dan dibagikan kepada publik.
Pesan itu ia sampaikan saat mengisi kegiatan Pelatihan Menulis di Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon pada Rabu, 11 Maret 2026.
Pelatihan yang diikuti santri putri tingkat SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi tersebut dirancang berlangsung selama tiga hari. Program ini bertujuan menumbuhkan keberanian santri untuk menulis sekaligus melatih mereka mengolah pengalaman sehari-hari menjadi esai populer yang utuh.
Dalam pengantar materinya, Ustaz Sofhal menjelaskan bahwa kehidupan pesantren sering kali dipandang menarik oleh masyarakat di luar lingkungan pondok. Hal-hal yang dianggap biasa oleh santri justru dapat menjadi cerita yang memikat bagi pembaca umum.
Baca: Serunya Ramadan di Pesantren, Cerita Santri KHAS Kempek Cirebon Asal Sulteng
“Banyak orang luar penasaran dengan kehidupan pesantren,” ujarnya.
Ia menilai, kepekaan melihat pengalaman sehari-hari merupakan modal penting bagi seorang penulis.
“Penulis bukan orang yang paling pintar, tetapi orang yang paling peka melihat cerita,” kata Ustaz Sofhal.
Ia kemudian memberi contoh berbagai peristiwa sederhana yang dapat dijadikan bahan tulisan. Antrean mandi menjelang subuh, kegiatan ngaji pasaran yang membuat mata terasa berat, hingga aroma dapur pondok saat sahur dinilai memiliki nilai cerita tersendiri.
Menurutnya, kisah tentang teman sekamar yang menjadi keluarga kedua maupun perasaan rindu kepada rumah juga dapat diangkat menjadi tulisan yang kuat. Ia menegaskan bahwa pengalaman santri memiliki potensi besar untuk dituliskan jika dilihat dengan sudut pandang yang tepat.
“Jika pesantren adalah laut, maka pengalaman santri adalah ikan-ikannya. Tinggal dipancing dengan tulisan,” tuturnya.
Selain memberikan motivasi, Ustaz Sofhal juga menjelaskan konsep dasar esai populer kepada para peserta. Ia menerangkan bahwa esai populer merupakan tulisan yang ringan dibaca, tidak terlalu akademis, tetapi tetap memuat cerita serta pesan yang jelas bagi pembaca.
“Esai populer biasanya bercerita, mudah dipahami, dan tetap memiliki pesan,” jelasnya.
Dalam pemaparannya, ia juga memperkenalkan struktur dasar esai populer, yakni pembuka yang menarik perhatian pembaca, bagian cerita atau pengalaman utama, penjelasan atau refleksi, serta penutup yang meninggalkan kesan.
Peserta kemudian diajak menggali ide tulisan dari lingkungan pesantren. Ustaz Sofhal menjelaskan bahwa sumber ide dapat berasal dari pengalaman pribadi, tokoh-tokoh di sekitar seperti kiai, nyai, ustazah, pengurus, maupun teman sekamar, serta berbagai tradisi yang berlangsung selama Ramadan di pesantren.
Untuk memperkuat pemahaman, peserta diminta mengikuti latihan singkat dengan menuliskan lima hal paling unik yang mereka alami selama Ramadan di pondok. Latihan ini bertujuan membantu santri menyadari bahwa pengalaman sehari-hari dapat menjadi bahan tulisan.
Ia juga mengingatkan pentingnya membuat judul yang menarik. Menurutnya, judul sebaiknya singkat, spesifik, dan mampu memancing rasa ingin tahu pembaca.
“Judul yang baik biasanya pendek, jelas, dan membuat orang ingin membaca,” ujarnya.
Di akhir sesi, peserta mendapatkan tugas menuliskan tiga ide tulisan tentang Ramadan di pesantren. Dari gagasan tersebut, mereka diminta memilih satu yang paling kuat untuk dikembangkan menjadi judul dan paragraf pembuka dengan panjang minimal lima hingga tujuh kalimat.