Serunya Ramadan di Pesantren, Cerita Santri KHAS Kempek Cirebon Asal Sulteng

Suasana ngaji pasaran Ramadan di Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur, Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon. Dok IST

Ikhbar.com: Ramadan di pesantren menghadirkan pengalaman berbeda dibandingkan menjalani bulan suci di rumah. Jadwal ibadah lebih padat, tradisi ngaji pasaran, serta kebersamaan saat berburu takjil menjadi warna tersendiri bagi para santri selama berpuasa.

Pengalaman tersebut dirasakan Fatikhatul Izza, santri Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur, Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, asal Sulawesi Tengah (Sulteng).

Menurut Izza, sapaan karibnya, aktivitas Ramadan di pesantren jauh lebih terstruktur dengan target yang jelas, terutama dalam kegiatan ibadah dan pengajian.

“Yang paling membedakan Ramadan di pesantren dan di rumah adalah ngaji pasaran dan tarawihnya. Biasanya di rumah tarawihnya bolong-bolong, tapi di pondok diwajibkan,” ujar Izza kepada Ikhbar.com, pada Kamis, 12 Maret 2026.

Fatikhatul Izza, santri Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur, Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, asal Sulawesi Tengah (Sulteng). IKHBAR/FSJ

Baca: Ramadan di Pesantren: Bulan Kesabaran dan Pengetahuan

Kewajiban mengikuti Salat Tarawih menjadi hal yang langsung terasa bagi para santri. Di pesantren, jumlah rakaat Tarawih mencapai 23 rakaat ditambah witir. Sementara di rumah, Izza mengaku terbiasa melaksanakan Salat Tarawih delapan rakaat.

“Tarawih di pondok 23 rakaat sama witir, kalau di rumah cuma 8 rakaat. Selain itu ada war (berburu) takjilnya sesama santri, lebih seru,” katanya.

Selama Ramadan, aktivitas harian santri dimulai sejak dini hari. Setelah sahur dan mandi, para santri melaksanakan Salat Subuh berjamaah, lalu dilanjutkan dengan setoran Al-Qur’an.

Kegiatan kemudian berlanjut dengan membaca Al-Qur’an atau deresan. Saat kembali ke kamar, waktu luang biasanya digunakan untuk beristirahat atau mencuci pakaian sebelum masuk waktu Salat Zuhur.

Selepas Salat Zuhur, para santri kembali melanjutkan deresan Al-Qur’an. Aktivitas yang sama dilakukan lagi setelah Salat Asar hingga menjelang waktu berbuka. Di sela waktu tersebut, para santri biasanya berburu takjil atau menyiapkan menu berbuka puasa.

“Usai berbuka serta melaksanakan Salat Isya dan Tarawih berjemaah, kegiatan belum selesai. Kami masih mengikuti ngaji pasaran yang menjadi agenda khas pesantren selama Ramadan,” katanya.

Baca: Kiai Ahmad: Ramadan Momentum Terbaik untuk Melatih Keikhlasan

Menurut Izza, bagian yang paling ia nikmati dari rutinitas tersebut adalah momen berburu takjil bersama teman-teman serta kegiatan membaca Al-Qur’an yang kini memiliki target lebih jelas.

Part (bagian) yang paling disukai adalah war takjil sesama santri, sama tadarus Al-Qur’an yang biasanya asal jalan, tetapi sekarang penuh target,” ungkapnya.

Jadwal kegiatan yang padat selama Ramadan justru memberi kesan menyenangkan bagi para santri. Izza menilai suasana tersebut hanya muncul ketika bulan puasa tiba.

“Jadwal yang padat selama Ramadan justru menyenangkan, sebab hanya ada di bulan Ramadan. Bulan lainnya meski sama padat tetapi ada bedanya,” tuturnya.

Perbedaan tersebut terlihat pada materi pengajian pasaran yang lebih spesifik. Kajian yang dipelajari antara lain hadis serta pembahasan adab santri kepada kiai.

“Yang paling mencolok adalah ngaji pasaran-nya yang lebih spesifik seperti hadis, adab santri kepada kiai. Dan itu yang membuat ada hal lain yang lebih bermakna,” ujarnya.

Menjalani Ramadan jauh dari keluarga tentu tidak mudah bagi sebagian santri. Izza memiliki cara tersendiri untuk mengatasi rasa rindu terhadap rumah.

“Jauh dari rumah itu memang berat, cara mengatasinya adalah terus bersosialisasi dengan teman. Dan itu bisa sedikit mengobati jauh dari rumah,” katanya.

Baca: Sambut Ramadan, Nyai Tho’ah Ja’far Soroti Kesiapan Ibadah dan Keluarga

Bagi Izza, Ramadan di pesantren menghadirkan banyak pengalaman baru. Kesederhanaan menu berbuka juga menjadi bagian dari cerita tersebut.

“Ramadan di pesantren itu seru, banyak pengalaman baru. Buka puasa juga seadanya saja, beda dengan di rumah yang lebih banyak keinginan karena dekat dengan orang tua,” pungkasnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.