Laksana Sepakbola, Kiai Basith Ungkap Babak Penyisihan hingga Final dalam Bulan Ramadan

Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Ikhbar.com: Ramadan tidak selalu berjalan dengan ritme yang sama dari awal hingga akhir. Perjalanan ibadah selama sebulan memiliki tahapan yang dapat dianalogikan seperti pertandingan sepakbola.

Hal tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mubarokah Karangmangu Cirebon, KH Abdul Basith, dalam Program Sinikhbar | Siniar Ikhbar, bertajuk “Beda Rasa Ramadan di Pesantren dan di Kota”, di Ikhbar TV. Kiai Basith, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa Ramadan dapat dipahami melalui tiga fase yang masing-masing memiliki tantangan dan makna.

“Ramadan itu terdiri dari tiga tingkatan,” kata Kiai Basith, dikutip pada Senin, 9 Maret 2026.

Baca: Ramadan di Pesantren: Bulan Kesabaran dan Pengetahuan

Sosok yang juga aktif berdakwah di masyarakat tersebut menggambarkan tiga fase itu dengan analogi pertandingan olahraga, mulai dari penyisihan hingga final.

“Babak penyisihan ada di sepuluh hari pertama. Sepuluh hari berikutnya babak semifinal. Nah, sepuluh hari terakhir, itu babak final,” ujar Kiai Basith.

Menurutnya, sepuluh hari pertama Ramadan sering menjadi masa yang paling berat bagi banyak orang. Pada periode ini, tubuh masih beradaptasi dengan perubahan pola makan, waktu tidur, serta jadwal ibadah yang meningkat.

Karena itu, fase awal dapat dipahami sebagai masa adaptasi sekaligus penyisihan. Orang yang mampu menjaga semangat ibadah sejak awal biasanya lebih mudah melanjutkan perjalanan Ramadan pada tahap berikutnya.

Memasuki sepuluh hari kedua, ritme ibadah biasanya mulai stabil. Tubuh sudah terbiasa dengan pola puasa, sementara aktivitas ibadah terasa lebih ringan dibandingkan hari-hari pertama.

Kiai Basith menyebut perubahan tersebut sebagai proses alami yang dialami banyak orang selama Ramadan.

“Seminggu pertama mungkin berpuasa enggak begitu terasa, masih senang dan semangat. Baru di pekan-pekan berikutnya merasa bosan dan berat,” katanya.

Setelah melewati dua fase tersebut, Ramadan memasuki sepuluh hari terakhir yang menjadi puncak perjuangan spiritual. Pada fase ini, umat Islam didorong memperbanyak ibadah karena diyakini terdapat malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mubarokah Karangmangu Cirebon, KH Abdul Basith (kanan), saat menjadi narasumber dalam Program Sinikhbar | Siniar Ikhbar, bertajuk “Beda Rasa Ramadan di Pesantren dan di Kota”, di Ikhbar TV. Dok IKHBAR

Dalam pengalaman para santri di pesantren, sepuluh hari terakhir biasanya diisi dengan ibadah yang lebih intens, seperti memperbanyak zikir, tadarus, dan qiyamul lail.

Kiai Basith menggambarkan fase terakhir tersebut sebagai tahap penentuan setelah melewati perjalanan ibadah hampir satu bulan penuh.

“Nah, pas di babak final itu perut mengalami tune-up yang sudah mulai bagus,” kata Kiai Basith.

Baca: Podcast Ramadan di Ikhbar TV kembali Hadir, Lebih Inspiratif dan Kontekstual!

Kiai Basith menjelaskan bahwa tubuh yang telah terbiasa dengan puasa membuat seseorang lebih siap menjalani ibadah secara maksimal pada penghujung Ramadan.

Gagasan tentang pembagian tiga fase Ramadan juga pernah disebut dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Salman Al-Farisi. Rasulullah Muhammad Saw bersabda:

وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

“Bulan Ramadan adalah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” (HR. Al-Khuzaimah dan Al-Baihaqi).

Hadis tersebut sering dijadikan rujukan para ulama untuk menjelaskan bahwa perjalanan Ramadan memiliki tahapan spiritual yang berbeda.

Bagi Kiai Basith, memahami Ramadan sebagai proses bertahap dapat membantu seseorang menjaga semangat ibadah sejak awal bulan.

Kiai Basith menilai banyak orang memasuki Ramadan dengan antusias, lalu kehilangan konsistensi di tengah perjalanan karena tidak menyadari bahwa ibadah selama Ramadan membutuhkan proses.

Dengan memahami bahwa Ramadan memiliki “babak penyisihan”, “semifinal”, hingga “final”, seseorang diharapkan mampu memanfaatkan setiap fase dengan lebih baik.

“Ramadan harus menjadi perjalanan spiritual yang membawa seseorang menuju puncak ibadah di akhir bulan,” pungkasnya.

Obrolan selengkapnya, bisa disimak di sini:

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.