Ramadan selalu menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi setiap orang. Bagi santri, bulan suci ini sering dikenang sebagai masa yang penuh kebersamaan: santap sahur berjemaah, tadarus bersama, pengajian kitab kuning, hingga ritme hidup yang berubah hampir sepanjang hari.
Banyak yang baru merasakan betapa berharganya pengalaman itu setelah kembali ke tengah masyarakat.
Dalam episode Sinikhbar | Siniar Ikhbar kali ini, Pendakwah sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mubarokah Karangmangu Cirebon, KH Abdul Basith, berbagi pandangan tentang perbedaan suasana Ramadan yang dirasakan santri di pesantren dan anak-anak muda yang menjalani Ramadan di kota. Ia menceritakan bagaimana tradisi-tradisi sederhana di pesantren justru membentuk karakter, kedisiplinan, dan kepekaan sosial.
Kiai Basith juga menyinggung fenomena yang sering muncul di ruang publik perkotaan: Ramadan yang terasa cepat berlalu, ritme ibadah yang tidak terjaga, hingga suasana yang lebih ramai oleh aktivitas konsumsi. Dari situ, beliau menawarkan sejumlah cara sederhana agar Ramadan tetap terasa hidup dan meninggalkan bekas dalam diri.
Apa sebenarnya yang membuat Ramadan di pesantren begitu membekas? Tradisi apa saja yang bisa dipraktikkan oleh anak muda yang hidup di kota? Dan bagaimana menjaga agar Ramadan tidak lewat begitu saja tanpa perubahan berarti? Temukan jawabannya dalam obrolan lengkap di episode ini.
π Subscribe, like, comment, dan share kanal Ikhbar TV
π Follow seluruh akun media sosial @IkhbarCom
π Baca artikel Islam inspiratif lainnya di www.ikhbar.com