Ikhbar.com: Penguasaan sejarah menjadi bagian penting dalam pembentukan cara berpikir santri. Tanpa pemahaman sejarah yang memadai, seseorang mudah kehilangan arah ketika menghadapi perubahan sosial, politik, dan budaya yang terus bergerak.
Pesan tersebut disampaikan KH Sobih Adnan, saat menutup program “Ngaji Pasaran Ramadan 1447 H, Kitab Khulashah Nur al-Yaqin“ yang berlangsung di Asrama Putra KH Salwa Yasin, Pondok Pesantren Ketitang Cirebon, Sabtu, 7 Maret 2026.
Gus Sobih, sapaan karibnya, menekankan bahwa sejarah dalam tradisi pesantren sering dipersempit sebagai kisah tokoh atau rangkaian peristiwa masa lalu. Menurut dia, sejarah memiliki fungsi yang lebih luas dalam membentuk nalar dan perspektif santri.
“Sejarah adalah laboratorium hukum alam atau sunnatullah,” katanya, dikutip Ahad, 8 Maret 2026.
Baca: Pentingnya Belajar Sejarah menurut Ibnu Khaldun hingga Arkoun
Salah satu pengasuh Pondok Pesantren Ketitang Cirebon tersebut menjelaskan bahwa alasan pertama santri perlu memahami sejarah berkaitan dengan kemampuan membaca pola perjalanan masyarakat. Banyak peristiwa besar dalam kehidupan manusia mengikuti pola tertentu yang berulang dari masa ke masa.
Karena itu, kata Gus Sobih, mempelajari sejarah juga membantu memahami arah perkembangan masa depan. Santri yang memiliki pemahaman sejarah lebih mudah membaca dinamika yang berkembang di tengah masyarakat.
Dia mengutip pandangan sejarawan Muslim, Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah yang menjelaskan kedekatan antara masa lalu dan masa depan.
إِنَّ الْمَاضِيَ أَشْبَهُ بِالْآتِي مِنَ الْمَاءِ بِالْمَاءِ
“Sesungguhnya masa lalu itu jauh lebih mirip dengan masa depan, melebihi kemiripan air dengan air.”
Menurut Gus Sobih, pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kejayaan maupun keruntuhan sebuah bangsa tidak muncul secara tiba-tiba. Setiap perubahan mengikuti hukum sebab-akibat dalam kehidupan sosial.
“Kalau santri paham sejarah, santri tidak akan kaget menghadapi peristiwa hari ini. Karena pola itu sudah pernah terjadi,” ujarnya.
Baca: Mengenal Ar-Rahiq al-Makhtum, Rujukan Kisah Perjalanan Hidup Nabi Agung
Alasan kedua berkaitan dengan pembentukan nalar kritis. Dalam tradisi keilmuan Islam, kata Gus Sobih, metodologi sejarah berkembang ketat melalui tradisi ilmu hadis.
Para ulama sejak masa awal membangun sistem verifikasi informasi yang rinci melalui pemeriksaan sanad dan kredibilitas perawi. Tradisi tersebut membuat umat Islam memiliki standar tinggi dalam menilai kebenaran informasi.
Gus Sobih mengutip pernyataan ulama hadis Abdullah bin Mubarak yang menegaskan pentingnya sanad sebagai dasar keabsahan informasi.
الإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
“Sanad (transmisi keilmuan) adalah bagian dari agama. Jika tanpa sanad, maka siapa pun dapat mengatakan apa pun sesuai kemauannya.”
Menurut Founder sekaligus CEO Ikhbar Group tersebut, metode tersebut tetap relevan dengan kondisi masyarakat modern yang dipenuhi arus informasi cepat. Santri yang memahami metode sejarah akan terbiasa menelusuri sumber, memeriksa konteks, serta menguji keabsahan sebuah kabar.
“Santri harus terbiasa bertanya, ‘Ini sumbernya dari mana, siapa yang menyampaikan, dan dalam konteks apa informasi itu muncul?’,” kata Gus Sobih.
Alasan ketiga berkaitan dengan cara pandang terhadap keberagaman masyarakat. Melalui kajian sejarah Nabi Muhammad Saw dalam lanjutan kitab Khulashah Nur al-Yaqin, para santri mempelajari bagaimana masyarakat Madinah dibangun melalui kesepakatan sosial yang melibatkan berbagai kelompok.
Peristiwa tersebut tercermin dalam Piagam Madinah yang mempersatukan komunitas Muslim, Yahudi, dan kelompok masyarakat lain dalam satu tatanan politik bersama.
Di dalam dokumen tersebut disebutkan:
أَنَّهُمْ أُمَّةٌ وَاحِدَةٌ مِنْ دُونِ النَّاسِ
“Bahwa sesungguhnya mereka adalah satu umat (entitas politik), berbeda dari manusia lainnya.”
Baca: Menilik Isi Piagam Madinah, Dokumen Nasionalisme Umat dalam Sejarah Islam
Menurut Gus Sobih, fakta sejarah tersebut menunjukkan bahwa Islam sejak awal mengajarkan kehidupan berdampingan dalam masyarakat yang beragam.
“Kalau santri memahami sejarah ini, santri akan tahu bahwa menghargai perbedaan sudah menjadi bagian dari pengalaman umat Islam sejak masa Nabi,” ujarnya.
Alasan keempat berkaitan dengan wawasan global dalam perkembangan peradaban Islam. Dalam perjalanan sejarahnya, Nabi Muhammad Saw dan para sahabat tidak hidup dalam ruang terisolasi.
Umat Islam berinteraksi dengan berbagai peradaban besar pada masa tersebut seperti Romawi, Persia, dan Abyssinia. Interaksi tersebut menunjukkan bahwa tradisi Islam sejak awal terbuka terhadap pertukaran pengetahuan.
Gus Sobih mengutip hadis Nabi Muhammad Saw yang mendorong umat Islam mengambil hikmah dari mana pun sumbernya.
الكَلِمَةُ الحِكْمَةُ ضَالَّةُ المُؤْمِنِ، فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا
“Hikmah adalah barang milik orang beriman yang hilang. Di mana pun ia menemukannya, ia lebih berhak atasnya.” (HR. Tirmidzi)
“Pemahaman sejarah seperti itu membentuk mental santri agar terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” katanya.
Alasan kelima berkaitan dengan pembentukan mental perubahan. Dalam pandangan Gus Sobih, mempelajari sejarah Nabi Saw berarti memahami proses perubahan sosial yang dilakukan Rasulullah.
Dari perjalanan tersebut, santri dapat melihat bagaimana masyarakat yang sebelumnya diliputi konflik dan ketidakadilan perlahan berubah menjadi masyarakat yang lebih tertib dan berkeadaban.
Dalam tradisi ulama, kata dia, mempelajari sejarah juga dipercaya dapat memperluas cara berpikir seseorang. Gus Sobih mengutip ungkapan Imam Syafi’i mengenai manfaat mempelajari sejarah.
مَنْ قَرَأَ التَّارِيخَ زَادَ عَقْلُهُ
“Barang siapa mempelajari sejarah, maka kapasitas akalnya akan bertambah.”
Baca: Gus Sobih: Ramadan Momentum Kembali pada Keteraturan
Gus Sobih menegaskan bahwa penguasaan sejarah membantu santri memahami keberhasilan maupun kegagalan generasi terdahulu. Dari pengalaman tersebut, santri dapat mengambil pelajaran untuk menghadapi persoalan zaman sekarang.
Pengajian kitab Khulashah Nur al-Yaqin dalam program Ngaji Pasaran Ramadan di Pondok Pesantren Ketitang menjadi salah satu upaya memperkuat kembali tradisi membaca sejarah di kalangan santri.
“Santri yang memahami sejarah akan lebih siap menghadapi masa depan karena mereka belajar dari perjalanan panjang umat manusia,” pungkas Gus Sobih.