Ikhbar.com: Turunnya Al-Qur’an tidak berlangsung melalui satu pola sederhana. Dalam berbagai riwayat, Nabi Muhammad Saw mengalami keadaan yang berbeda ketika menerima wahyu. Terkadang wahyu datang dengan suara keras yang mengguncang, sesekali melalui percakapan dengan malaikat, dan pada keadaan tertentu melalui mimpi. Pernah juga, Allah Swt berbicara langsung kepada Rasulullah Saw.
Keragaman cara turunnya wahyu sejak lama dibahas para ulama dalam disiplin ‘ulūm al-Qur’ān. Salah satu uraian yang cukup rinci dirangkum oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, yang memuat keterangan dari para ulama mengenai lima cara wahyu disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw.
Baca: Mengapa Al-Qur’an Diturunkan Bertahap?
Suara lonceng
Bentuk pertama adalah wahyu yang datang dengan suara menyerupai dentingan lonceng. Para ulama menyebut keadaan ini sebagai bentuk wahyu yang paling berat bagi Rasulullah Muhammad Saw.
Imam As-Suyuthi menjelaskan:
إِحْدَاهَا : أَنْ يَأْتِيَهُ الْمَلَكُ فِي مِثْلِ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ
“Salah satunya adalah malaikat datang dengan suara seperti dentingan lonceng.”
Penjelasan ini diperkuat dengan riwayat yang memuat percakapan sahabat Abdullah bin Amr dengan Nabi Muhammad Saw:
سَأَلْتُ النَّبِيَّ ﷺ : هَلْ تُحِسُّ بِالْوَحْيِ ؟ فَقَالَ : أَسْمَعُ صَلَاصِلَ، ثُمَّ أَسْكُتُ عِنْدَ ذَلِكَ، فَمَا مِنْ مَرَّةٍ يُوحَى إِلَيَّ إِلَّا ظَنَنْتُ أَنَّ نَفْسِي تُقْبَضُ
“Aku bertanya kepada Nabi: ‘Apakah engkau merasakan wahyu?’ Beliau menjawab: ‘Aku mendengar suara seperti dentingan lonceng, lalu aku terdiam. Setiap kali wahyu turun kepadaku, aku merasa seakan-akan nyawaku akan dicabut.’” (HR. Ahmad)
Imam Al-Khaththabi (wafat 388 H), seorang ahli hadis dan fikih dari Basrah, menjelaskan bahwa suara tersebut berupa bunyi berulang yang kuat. Pada awalnya bunyi itu terdengar tanpa makna yang jelas. Setelah itu, Nabi Saw memahami isi wahyu yang disampaikan.
Sebagian ulama berpendapat bahwa suara tersebut berasal dari kepakan sayap malaikat. Suara itu memenuhi pendengaran Nabi Saw sehingga tidak ada ruang bagi suara lain.
Riwayat sahih juga menyebut bahwa keadaan ini merupakan bentuk wahyu yang paling berat bagi Nabi Muhammad Saw. Sebagian ulama menyatakan cara ini sering terjadi ketika ayat yang turun berisi ancaman atau peringatan.
Baca: 3 Amalan Istimewa di Malam Nuzulul Qur’an
Ditanam ke dalam hati
Bentuk kedua adalah wahyu yang ditanamkan langsung ke dalam hati Nabi Muhammad Saw. Dalam keadaan ini, pesan wahyu tidak selalu disampaikan melalui percakapan panjang.
Nabi Muhammad Saw bersabda:
إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِي
“Sesungguhnya Ruhul Qudus meniupkan sesuatu ke dalam hatiku.” (HR. Al-Hakim)
Imam As-Suyuthi menjelaskan bahwa ungkapan “Nafaṡa fī rū‘ī” menunjukkan makna wahyu dimasukkan langsung ke dalam hati Nabi Saw.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa bentuk ini dapat berkaitan dengan cara pertama atau cara berikutnya. Malaikat tetap datang kepada Rasulullah Saw dalam salah satu bentuk tersebut, kemudian inti wahyu dimasukkan ke dalam hati beliau sehingga maknanya dipahami secara utuh.
Dengan cara ini, wahyu sampai kepada Nabi Saw tanpa melalui dialog panjang.
Baca: Nuzulul Qur’an, Dari Gua Hira ke Peradaban Dunia
Malaikat menjelma manusia
Cara ketiga adalah ketika malaikat datang dalam rupa manusia dan berbicara langsung kepada Nabi Muhammad Saw.
Rasulullah Saw bersabda:
وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِيَ الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ
“Kadang-kadang malaikat menjelma seperti seorang laki-laki lalu berbicara kepadaku, dan aku memahami apa yang ia katakan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat yang disebutkan Abu Awanah dalam kitab hadisnya, terdapat tambahan keterangan dari Nabi Saw:
وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيَّ
“Cara ini adalah yang paling ringan bagiku.”
Ketika malaikat datang dalam rupa manusia, proses penyampaian wahyu terasa lebih mudah bagi Nabi Muhammad Saw. Wahyu disampaikan melalui percakapan yang dapat dipahami secara langsung.
Baca: Apakah Malaikat Menikah dan Punya Anak Menantu?
Lewat mimpi
Cara keempat adalah wahyu yang datang melalui mimpi. Para ulama memasukkan mimpi sebagai salah satu bentuk wahyu karena dalam pengalaman kenabian mimpi dapat menjadi sarana penyampaian pesan ilahi.
Menurut Imam As-Suyuthi, malaikat dapat datang kepada Nabi Saw dalam keadaan tidur dan menyampaikan wahyu melalui mimpi.
Sebagian ulama memasukkan turunnya Surah Al-Kautsar dalam kategori ini.
Baca: Apakah Allah Pernah Tersenyum?
Allah berbicara langsung
Cara kelima adalah bentuk wahyu yang paling istimewa, yaitu ketika Allah Swt berbicara langsung kepada Nabi Muhammad Saw.
Imam As-Suyuthi menjelaskan bahwa komunikasi ini dapat terjadi dalam dua keadaan. Pertama, ketika Nabi dalam keadaan terjaga, seperti pada peristiwa Isra’. Kedua, ketika Nabi Saw dalam keadaan tidur.
Nabi Muhammad Saw bersabda:
سَأَلْتُ رَبِّي مَسْأَلَةً وَدِدْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ سَأَلْتُهَا، قُلْتُ: يَا رَبِّ، اتَّخَذْتَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا، وَكَلَّمْتَ مُوسَى تَكْلِيمًا
“Aku pernah meminta sesuatu kepada Rabbku, dan aku berharap seandainya tidak memintanya. Aku berkata: ‘Wahai Rabbku, Engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Mu dan Engkau berbicara langsung kepada Musa.’” (HR. Ath-Thabarani)
Allah Swt kemudian menjawab dengan mengingatkan berbagai nikmat yang telah diberikan kepada Nabi Saw:
أَلَمْ أَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَيْتُ، وَضَالًّا فَهَدَيْتُ، وَعَائِلًا فَأَغْنَيْتُ، وَشَرَحْتُ لَكَ صَدْرَكَ، وَخَطَطْتُ عَنْكَ وِزْرَكَ، وَرَفَعْتُ لَكَ ذِكْرَكَ، فَلَا أُذْكَرُ إِلَّا ذُكِرْتَ مَعِي
“Bukankah Aku telah mendapatimu sebagai yatim lalu Aku melindungimu, tersesat lalu Aku memberimu petunjuk, kekurangan lalu Aku mencukupimu, Aku lapangkan dadamu, Aku hapuskan bebanmu, dan Aku tinggikan sebutan namamu. Aku tidak disebut kecuali engkau disebut bersamaku.”
Riwayat ini menunjukkan adanya bentuk komunikasi langsung antara Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw yang termasuk dalam kategori wahyu.