3 Pilar Utama Santri menurut Buya Said Aqil

Kegiatan Takjil Pesantren yang dirangkai dengan Talkshow dan Ngaji Bareng Santri di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan. Foto: Kemenag

Ikhbar.com: Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj menegaskan pesantren memiliki kekayaan tradisi keilmuan yang kokoh sebagai fondasi pembentukan santri. Salah satu pilar utamanya adalah khazanah kitab kuning yang menjadi basis pembelajaran dan penguatan nalar keislaman di lingkungan pesantren.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan Talkshow dan Ngaji Bareng Santri yang digelar di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan, Jumat, 27 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program Ramadhan Direktorat Pesantren Kementerian Agama bertajuk “San Trend Ramadhan.”

Dalam paparannya, Kiai Said menjelaskan konstruksi keilmuan pesantren bertumpu pada tiga pilar utama. Pertama, bayan ilahi yang bersumber dari wahyu. Kedua, bayan nabawi yang merujuk pada sunah. Ketiga, bayan aqli yang berkembang melalui ijtihad ulama, termasuk ijma dan qiyas sebagai metode istinbath hukum.

Baca: Kiai Said Ajak Masyarakat Perjuangkan Sila Kelima

“Pesantren itu kaya, salah satunya karena tradisi kitab kuningnya. Di dalamnya ada bayan ilahi, ada bayan nabawi, dan juga bayan aqli yang melahirkan ijma serta qiyas sebagai metode istinbath hukum,” kata Kiai Said Aqil.

Sekretaris Jenderal Kemenag, Kamarudin Amin, menyampaikan bahwa santri masa kini perlu memperluas kompetensi tidak hanya pada aspek tafaqquh fiddin, tetapi juga memahami ketatanegaraan dan wawasan kebangsaan agar mampu berperan di ruang-ruang strategis.

“Santri masa kini jika bisa tidak hanya memiliki target tafaqquh fiddin tetapi bisa belajar ketatanageraaan juga sehingga bisa sukses di pos-pos strategis,” ujar Kamarudin.

Direktur Pesantren Kemenag, Basnang Said, menjelaskan rangkaian “San Trend Ramadhan” mencakup sejumlah agenda, antara lain Takjil Pesantren, Pesantren di Radio, Ramadhan Insight, Ngaji Bandongan Online, serta kegiatan tematik lainnya.

Kegiatan Takjil Ramadhan dilaksanakan dengan pendekatan tematik. Pada pelaksanaan perdananya di PP Al-Tsaqafah Ciganjur, tema yang diangkat adalah Dari Pesantren untuk Dunia: Proyeksi Santri Masa Depan.

Basnang menegaskan tema tersebut menjadi arah pembinaan santri ke depan. Ia menyoroti pentingnya menghadirkan generasi santri yang berakar kuat pada tradisi keilmuan pesantren, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki komitmen kebangsaan.

“Santri masa depan yang kita proyeksikan adalah santri yang berakar kuat pada tradisi keilmuan pesantren sebagaimana dicontohkan Kiai Said, menguasai khazanah klasik, tetapi tetap terbuka terhadap perkembangan zaman,” kata Basnang.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.